Dark/Light Mode

Tahu-Tempe Lenyap

Rakyat Kecil Menjerit

Senin, 4 Januari 2021 07:41 WIB
Ilustrasi pengrajin tahu dan tempe. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi pengrajin tahu dan tempe. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam tiga hari ini, tahu tempe lenyap di pasaran. Hal ini buntut dari aksi mogok produsen tahu tempe yang memprotes melonjaknya harga kedelai, bahan dasar pembuat tahu-tempe. Karena tahu-tempe lenyap, rakyat miskin menjerit, makanan favoritnya dengan harga murah susah didapat.

Aksi mogok ini diserukan oleh Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta, menyusul lonjakan harga bahan baku kedelai, dari Rp 7.200 menjadi Rp 9.200 per kilogram. Sejak tanggal 1 Januari, produsen tempe khususnya di wilayah Jabodetabek, berhenti berproduksi.

Berita Terkait : Kejaksaan Agung Korek Pejabat Kementan Soal Harga Alsintan

Aksi mogok dari produsen tempe dan tahu membuat rakyat kelabakan. Pedagang gorengan, warung nasi, hingga ibu-ibu rumah tangga, teriak dengan kelangkaan tahu tempe ini.

“Sejak Tahun Baru, di pasar sudah tak ada yang jual. Pedagangnya ngomong tak ada lagi pengrajin tempe tahu yang buat. Mereka mogok,’’ kata Mirna, pemilik Warung Padang di Kawasan Kebayoran Lama, kemarin.

Baca Juga : HUT Ke-48, PDIP Rapatkan Barisan

Pernyataan serupa juga ditegaskan para penjual makanan di warung makan yang lain. Di sebuah warung Tegal yang ada di kawasan perbatasan Jakarta Barat-Tangerang berkata yang sama. “Nggak ada tempe tahu lagi. Sudah tiga hari nih. Nggak ada yang jual. Katanya, kedelainya mahal banget,’’ tegasnya.

Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin memperkirakan, lonjakan harga kedelai akibat meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan China. Saat perang dagang kedua negara memanas, harga kedelai impor turun ke level Rp 6.000 per kilogram. Kini setelah mereda, naik menjadi Rp 9.000 karena permintaan di China meningkat.

Baca Juga : 2,4 Juta Warga DKI Dapat Bansos Tunai

Kedelai impor bisa sampai ke Indonesia dengan harga sekitar Rp 6.500. Petani lokal juga menjual dengan harga Rp 6.500. Tapi ini harga ladang. Setelah diangkut ke perajin, lebih mahal,” ungkapnya.
 Selanjutnya