Dark/Light Mode

Pedagang Daging Di Jabodetabek Mogok

Siapa Yang Layak Di-bully

Jumat, 22 Januari 2021 07:28 WIB
Pedagang daging sapi melayani pembeli di kios daging Pasar Modern BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Para pedagang daging sapi di sejumlah pasar di kawasan Jabodetabek menggelar aksi mogok jualan sebagai bentuk protes kepada pemerintah atas tingginya harga daging sapi. (Foto: ANTARA/Muhammad Iqbal)
Pedagang daging sapi melayani pembeli di kios daging Pasar Modern BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Para pedagang daging sapi di sejumlah pasar di kawasan Jabodetabek menggelar aksi mogok jualan sebagai bentuk protes kepada pemerintah atas tingginya harga daging sapi. (Foto: ANTARA/Muhammad Iqbal)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sudah dua hari, para pedagang daging sapi mogok jualan. Gara-garanya, harga daging terus naik. Kalau sudah begini siapa yang layak di-bully ya? 

Pedagang daging sapi se-Jabodetabek kompak mogok jualan mulai Rabu (20/1). Dalam selebarannya, pedagang daging sapi rencananya akan mogok tiga hari, sampai hari ini.

Akibat aksi mogok ini, semua kios daging yang ada di pasar Jabodetabek kosong. Masyarakat dan pelaku usaha yang menggunakan bahan baku daging kecewa karena tidak mendapatkan
daging.

Berita Terkait : BUMD Siap Gelontorkan 780 Ton Daging Sapi Beku

Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Asnawi angkat bicara mengenai mogok jualan ini. Menurut dia, pedagang kecewa dengan terus melonjaknya harga daging sejak Juli tahun lalu. Kenaikan ini, terjadi dari hulu, saat importir sapi belanja dari Australia. Imbasnya, pedagang kesulitan menjual.

“Kesalnya lagi, sudah rugi kita dicap bermain oleh konsumen,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Pemerintah pun langsung turun tangan menanggapi mogok pedagang daging. Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag), Suhanto mengatakan, telah berdialog dengan APDI. Info yang didapat, terjadi 12,6 persen di tingkat rumah pemotongan hewan (RPH) pada Januari.

Baca Juga : Biden Sibuk Cuci Piring Kotor Trump

Kenaikan ini, kata dia, dipicu harga sapi bakalan asal Australia selama satu semester terakhir. Per Juni 2020 masih di kisaran 2,8 dolar AS per kg berat hidup. Tapi saat ini, naik menjadi 3,78 dolar AS per kg berat hidup.

Menurut dia, penyebab kenaikan harga sapi di Australia karena adanya program repopulasi, pemenuhan permintaan konsumsi dalam negeri, dan peningkatan permintaan dari negara lain. “Terutama di tiga bulan terakhir di negara tersebut,” ungkap Suhanto.

Upaya menindaklanjuti aksi mogok pedagang daging di wilayah Jabodetabek, dalam jangka pendek Kemendag telah berkoordinasi dengan pemasok daging sapi dan APDI untuk memastikan kelancaran distribusi pasokan dan ketersediaan di pasar Jabodetabek. Kemendag juga telah menemui importir sapi bakalan dan mengimbau untuk membantu menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga di RPH.

Baca Juga : Catat Yuk, Ini 5 Tempat Layanan SIM Keliling Di Jakarta

“Kami juga berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan berbagai pihak lain agar harga di tingkat eceran dapat dijangkau masyarakat dengan ketersediaan yang cukup,” tukas Suhanto.
 Selanjutnya