Dark/Light Mode

Corona Gawat Darurat, RS Rujukan Penuh Sesak

RS Swasta Jangan Mbalelo

Minggu, 24 Januari 2021 08:04 WIB
Ilustrasi Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)
Ilustrasi Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penyebaran Corona di tanah air makin gawat. Rumah sakit (RS) rujukan yang ada di Jabodetabek sudah penuh. Akibatnya, pasien makin kesulitan mencari RS rujukan. Bahkan sampai ada yang meninggal karena tidak dapat RS rujukan. Dalam kondisi genting begini, RS swasta dengan daya tampung yang besar sudah sepatutnya menambah ruangan untuk merawat pasien Corona. Jangan mbalelo ya.

Kesulitan mendapat perawatan itu dirasakan betul oleh Berta, warga Tangerang, Banten. Kemarin, keadaan sepupunya yang sedang mendapat perawatan di instalasi gawat darurat (IGD) RSUD Tangerang, mulai drop. Pasien membutuhkan ventilator. Namun, dokter tak bisa berbuat banyak.

Ruang ICU di sana sudah penuh. Bertha lalu mencari ruang ICU di rumah sakit lain, termasuk rumah sakit swasta. Namun, hasilnya nihil. “Semua full. Rasanya ingin mencari sendiri ke setiap rumah sakit,” kata Bertaha, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Berita Terkait : Pemerintah Perpanjang Larangan WNA Masuk RI

Cerita pasien yang kesulitan mendapatkan perawatan karena IGD atau ICU penuh makin sering terdengar. LaporCovid menyampaikan, sejak akhir Desember lalu, pihaknya sudah menerima 39 laporan serupa.

Kasus teranyar adalah pasien Covid-19 di Kota Tangerang Selatan yang meninggal di Puskesmas tanpa penanganan maksimal. Pasien meninggal lantaran tak bisa mendapat ruang ICU.

Keluarga dan Puskesmas sudah menghubungi 75 rumah sakit rujukan di Jabodetabek. Namun, tak ada satu pun ruang ICU yang kosong hingga akhirnya saturasi oksigen pasien menurun dan meninggal dunia.

Baca Juga : Susi Mulai Berani Nyentil Jokowi

Sebelumnya lagi, seorang pasien di Depok dilaporkan meninggal di taksi online saat sedang mencari pertolongan di 10 rumah sakit.

Dirjen Pelayananan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Abdul Kadir tak menutup mata dengan keadaan seperti ini. Dia bilang, saat lonjakan kasus sangat tinggi, ada kemungkinan masyarakat tidak akan tertampung di rumah sakit. Ini berbahaya, lantaran akan berdampak pada tingginya angka kematian dan penularan.

Menghadapi kondisi ini, kata dia, pihaknya sudah mengeluarkan Surat Edaran tentang peningkatan kapasitas perawatan di setiap rumah sakit. Kalau dilihat secara nasional, tingkat keterisian tempat tidur di rumah masih di angka 64 persen. Namun, jika dilihat data per kota atau kabupaten, rasionya sangat memprihatinkan.

Baca Juga : Kasus Varian Baru Covid Melonjak, Satu RS Di Berlin Terpaksa Dikarantina

Di Jabodetabek misalnya, tingkat keterisian tempat tidur RS sudah mencapai 88 persen. Di DKI Jakarta hanya tersisa 63 tempat tidur. “Secara umum sudah mengkhawatirkan karena perkembangan pasiennya sangat banyak setiap hari,” kata Kadir, dalam keterangan tertulis kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
 Selanjutnya