Dark/Light Mode

Corona Di Teras Rumah Tetangga

Kamis, 21 Januari 2021 06:09 WIB
Ngopi - Corona Di Teras Rumah Tetangga
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Angka warga yang terpapar Corona semakin menyesakkan dada. Setiap hari, jumlahnya semakin tinggi. Penyebarannya sudah tak terkendali. Sudah mulai mendekat ke orang-orang sekitar rumah kita. Saya kaget, ternyata Corona sudah berada di teras rumah tetangga. Persisnya, sebelah rumah saya.

Kabar itu saya dapat dua pekan lalu. Kala itu, saya sedang melamun di sore yang mendung. Tiba-tiba, lamunan pecah. HP di kantong celana bergetar dan berbunyi. Ternyata, istri yang mengabari jika tetangga sebelah positif Corona.

Antara percaya dan tidak. Dada mendadak sesak. Pikiran pun semakin galau. Bagaimana tidak, anak saya kerap main bareng dengan anak tetangga. Bahkan, hampir setiap sore. Di rumah itu ada suami istri dengan dua anak kecil. Umurnya 11 tahun dan 4 tahun. Plus neneknya.

Berita Terkait : Dapat Apa Hari Ini?

"Dibawa ke rumah sakit atau isolasi mandiri di rumah?" tanya saya ke istri. Kata istri, berdasarkan informasi di grup perumahan, tidak dirawat ke rumah sakit. Lebih memilih isolasi mandiri. Alasannya, karena gejala yang ditimbulkan tidak parah. Hanya batuk-batuk ringan. Tidak demam, apalagi sesak napas. “Ya sudah lah. Mau gimana lagi,” ucap saya ke istri.

Yang terpenting semua tetangga tahu. Dan bersyukurnya, meski dalam situasi parno, ada kabar yang membuat sedikit lega. Para tetangga sekitar rumah justru menunjukkan kepedulian luar biasa. Salut.

Melalui grup WhatsApp (WA) perumahan, satu persatu tetangga rumah menyodorkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan tetangga selama isolasi mandiri (14 hari). Pemberiannya dijadwal. Saya kebagian hari Rabu.

Berita Terkait : Kangen Liputan Tatap Muka

Semua kebutuhan untuk makan satu keluarga seperti daging, beras, sayur-sayuran, gula, teh, minyak goreng, dan lainnya sudah di-list. Melalui grup WA, masing-masing tetangga menyebutkan apa yang mau disumbangkan.

“Mau menyumbang apaan?” tanya istri. Saya bingung, karena semua kebutuhan sudah disuplai. Saya pun balik bertanya. “Yang belum disumbang apa saja?”

Dari deretan bahan yang sudah didaftar belum ada vitamin, madu, dan cemilan untuk anak-anaknya. Secara spontan, saya usul agar memberikan vitamin dan cemilan. Selain itu, juga diberikan sembako dan ikan segar.

Berita Terkait : Kembali Belanja Ke Warung Tetangga

Tapi, yang perlu dilihat adalah bukan yang diberikan kepada tetangga atau siapa pun yang terpapar Corona. Rasa simpati berbalut empati yang kuat serta support membuat mereka bahagia. Setidaknya mereka tidak sendirian, apalagi dikucilkan.

Dukungan dan empati dari orang sekitar, memberikan semangat dan dorongan imun bagi yang terpapar. Setelah isolasi mandiri selesai. Melakukan swab. Ada kabar menggembirakan, karena hasilnya sudah negatif. Alhamdulillah. [Irandi Kasmara/Wartawan Rakyat Merdeka]