Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pengamat: Entengnya Vonis Nurhadi Dan Mantunya, Bisa Bikin Subur Koruptor

Sabtu, 13 Maret 2021 13:06 WIB
Terdakwa mantan Sekretaris MA Nurhadi, menghadiri sidang pembacaan vonis yang disiarkan di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, Rabu (10/3). (Foto: Tedy Kroen/RM)
Terdakwa mantan Sekretaris MA Nurhadi, menghadiri sidang pembacaan vonis yang disiarkan di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, Rabu (10/3). (Foto: Tedy Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Universitas Andalas, Feri Amsari menyesali ringannya vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta kepada mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi.

Feri khawatir, ringannya vonis itu akan membuat ladang koruptor semakin bertambah subur. 

Berita Terkait : Eks Sekretaris MA Nurhadi dan Menantunya Divonis 6 Tahun Penjara

"Tren melemahnya sanksi pidana bagi para pelaku korupsi, biasanya sejalan dengan bangkitnya dominasi para koruptor," kata Feri kepada RM.id, Sabtu (13/3).

Feri berpendapat, Nurhadi pantas dijatuhi hukuman mati karena bisa mendikte peradilan. "Ini kan artinya Nurhadi punya koneksi dengan peradilan," ujarnya.

Berita Terkait : Pentingnya Menguasai dan Berfikir Positif

"Sebagai orang yang mampu melakukan jual beli perkara, sanksinya harus lebih berat. Mestinya, bisa hukuman seumur hidup. Sebab, yang dirusak adalah sistem peradilan, tempat orang mencari keadilan," jelas Feri.

DSeperti diketahui, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta hanya dijatuhkan vonis 6 tahun penjara plus denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan, kepada Nurhadi dan Rezky Herbiyono.

Berita Terkait : Kesannya, Kayak Kurang Kerjaan

Padahal, jaksa penuntut umum (JPU) mengajukan tuntutan 12 tahun bui. [UMM]