Dark/Light Mode

Kota dan Budaya Kudeta

Kamis, 18 Maret 2021 18:02 WIB
Dr Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat.
Dr Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pernahkah kita merasakan kejenuhan yang luar biasa; kejenuhan yang membuat kita terasa gabut, tidak jelas justrungan, tindakan atau bingung mau melakukan apa. Jika kita mengalami keadaan seperti itu, berarti kita sedang dalam suasana bosan yang luar biasa, yang menuntut kita untuk melakukan sesuatu tindakan yang bisa mengubah secara radikal, sehingga kejenuhan yang melanda bisa berlalu dan kita menjadi bersemangat kembali.

Jika kita tinggal di kota yang keadaannya itu-itu saja; kegiatannya begitu-begitu saja; suasananya stagnan, dan rutinitas harian seperti mesin pembunuh produktivitas, berarti sudah saatnya kota harus diubah secara mendasar, harus direvolusi, dan kemapanan itu harus dikudeta.

Memang, jika keseharian manusia hanya bangun pagi, bersiap kerja, bergulat menyelesaikan pekerjaan, dan kemudian pulang ke rumah, setiap hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, itulah apa yang dikatakan oleh Karl Marx (1818 – 1883), sebagai manusia modern yang telah mengalami alienasi. Alienasi adalah realitas keterasingan manusia yang tidak disadari, karena merasa bahwa yang terjadi adalah hal yang biasa saja.

Berita Terkait : “Papalidan” Anak Remaja di Kota dalam Perspektif “Kota Manusia”

Bayangkan jika rasa keterasingan terjadi pada agregasi manusia dalam suatu kawasan yang luas, kompleks, dan dinamis. Lalu stagnasi terjadi sedemikian rupa. Kejenuhan individual bertransformasi menjadi kejenuhan massal. Maka selain akan berpotensi menurunkan imunitas sosial, juga mengancam produktivitas. Padahal, kota merupakan ruang produksi paling dinamis dalam kehidupan manusia.

Sehingga dalam konteks inilah kota selalu membutuhkan revolusi dan kudeta. Revolusi yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dikatakan sebagai “perubahan mendasar dalam suatu bidang”.

Jika revolusi diberi makna tambahan, maka revolusi dalam kota bisa diperluas pada beragam aspek, misalnya: penataan ulang peraturan atau regulasi yang sudah ketinggal zaman dan konteks; penataaan kawasan-kawasan tempat tinggal atau pemukiman, kawasan komersial, dan kawasan terbuka hijau, serta revolusi lain yang tujuannya adalah menghasilkan tatanan sosial budaya baru yang positif.

Baca Juga : Sekarang, Wisata Kuliner Bisa Lewat Aplikasi

Sedangkan kudeta dalam KBBI diartikan sebagai “perebutan kekuasaan (pemerintahan) dengan paksa”.

Jika makna kudeta ditransformasi pada kehidupan masyarakat (kota) bisa juga kudeta berarti perebutan wacana lama (yang tidak produktif), diganti dengan wacana baru yang lebih baik. Kudeta dalam politik merupakan pergantian kekuasaan, yang di dalamnya bisa jadi yang berganti atau digantikan mulai dari struktur, tatanan (regulasi) dan bahkan pandangan hidup dan tata nilai.

Sedangkan kudeta dalam tatanan kota adalah perubahan mendasar menyangkut tata kelola perkotaan, mulai dari sistem transportasi, kawasan-kawasan (komersial, pendidikan, pemukiman, dll.), tata drainase, sampah, perpustakaan publik, trotoar dan sebagainya. Semua harus diharmonisasikan, mengikuti kebutuhan masyarakat dan alam agar memenuhi kecukupan keberlanjutan.
 Selanjutnya