Dark/Light Mode

Kota Yang Terasing

Minggu, 7 Februari 2021 16:13 WIB
Dr. Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat
Dr. Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyak kota di dunia yang berkontribusi pada realitas keterasingan warganya. Tulisan singkat ini akan menjelaskan bagaimana fenomena tersebut berlaku. Salah satu pandangan Karl Marx (1818-1883) yang cukup populer dikutip banyak orang adalah teori keterasingan (alienasi). Meski sudah berusia lebih dari satu abad, namun teori ini bisa dikatakan tetap relevan menganalisis masyarakat saat ini.

Kota adalah ruang yang nafas dan jiwanya harus melakukan produksi dan reproduksi terus menerus. Hal yang paling mudah diidentifikasi bisa ditemukan di sekitar kita—tentu jika tinggal di kota. Jalanan yang terus aktif menjadi sarana orang lalu lalang; perkantoran, taman, bahkan gorong-gorong, dan jembatan. Semuanya aktif memproduksi realitas sesuai fungsinya.

Baca Juga : Wamenag: SKB 3 Menteri Soal Seragam Sekolah Sesuai Konstitusi

Begitupun sarana komunal penunjang lain seperti: mall, bioskop, sekolahan, ruang hiburan, dan sebagainya. Semua itu, secara berkala akan terus diperbaharui, diperbaiki, dan baik dari sisi substansi atau konten, dikontekstualisasikan.

Semua proses yang dilakukan dimaksudkan agar fungsi kota sebagai ruang produksi dan reproduksi lancar. Sebagai ruang produksi, maka kota dituntut untuk terus berpikir aktif menghasilkan atau menciptakan hal-hal baru. Setiap hal baru yang dihasilkan itu dioptimalisasikan untuk menyuapi warganya yang selalu kehausan dan kelaparan.

Baca Juga : Kolaborasi Aktor Darius dan Gino Menyuguhkan Koleksi Terbatas

Contoh: lagu-lagu baru terus diciptakan; aksi-aksi baru dalam film terus dipertontonkan; desain baru di kantor, rumah, cafe, pertigaan, bahkan pusat perbelanjaan. Itu semua hadir untuk melayani kehendak manja dari manusia kota yang tidak pernah puas.

Sedangkan reproduksi adalah proses mendaur ulang pikiran, produk, dan hal-hal yang sudah ada sebelumnya, dengan modifikasi terbatas, agar bisa dipakai atau difungsikan kembali. Lagu lama diaransemen ulang; desain bangunan lama diperbaiki; cafe lama dimodernisir; buku atau tulisan lama didiskusikan kembali, film lama dibuat ulang, tempat hiburan lama ditambahi antraksi baru, dan sebagainya.

Baca Juga : Disubsidi Kemenhub, Tes GeNose Di Terminal Pulogebang Gratis

Jika kita telusuri apa yang ada di balik semua proses dan realitas di atas, sebetulnya dihasilkan dari sesuatu yang melekat atau harus dilekatkan kepada manusia: kerja. Di sinilah pikiran Marx menjadi relevan kembali dijadikan bahan analisis.

Kerja memang seperti titah Tuhan yang dibebankan kepada manusia sepanjang jaman. Tugas mulia ini terukur pada hasil yang dimunculkan, dinikmati, dan (sebagian) dikagumi. Hasil kerja setiap orang berbeda-beda sesuai dengan apa yang dilakukannya.
 Selanjutnya