Dark/Light Mode

Guru Dan Murid Banyak Tak Pake Masker, Sekolah Tatap Muka Terbatas Kudu Dievaluasi

Kamis, 8 April 2021 22:19 WIB
Kepala Bidang Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri/Ist
Kepala Bidang Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) memberikan evaluasi terhadap 16 provinsi yang sudah mulai melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Dari pemantauan, masih terdapat pelanggaran protokol kesehatan (prokes) dan masih banyak guru yang belum divaksin.

Di beberapa daerah, PTM dimulai sejak Januari, Februari dan April 2021. Yaitu Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, NTT, Papua dan Papua Barat.

Kepala Bidang Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri mengatakan, saat PTM terbatas banyak terjadi pelanggaran prokes atau tidak melaksanakan 3M dengan disiplin di dalam sekolah. 

Dia menjelaskan, kasus yang banyak terjadi adalah guru dan siswa tidak memakai masker, kalau pun memakai masker, hanya dipakai didagu saja. 

"Menurut gurunya karena faktor anak-anak kangen-kangenan, akhirnya lupa," jelas Iman.

Berita Terkait : Pembukaan Sekolah Tidak Perlu Tunggu Juli

Menurutnya, ada beberapa daerah yang terdapat pelanggaran prokes. Antara lain, di Kabupaten Kepulauan Simeulue, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Melawi, Kota Batam, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Situbondo.

Iman melanjutkan, pelanggaran juga terjadi di luar sekolah. Yakni, ketika pulang sekolah, siswa dan guru melanggar 3M seperti berkerumun, tidak menjaga jarak, dan tidak mengenakan masker.

Begitu pula saat siswa dan guru berangkat dan pulang sekolah saat menggunakan angkutan umum, seperti di Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi. 

"Tidak adanya kepatuhan terhadap prokes, di dalam kendaraan umum tidak ada pengaturan jaga jarak. Tentu ini berbahaya bagi kesehatan guru dan siswa," sambung guru sejarah SMA ini.

Selain itu, lanjut dia, vaksinasi bagi guru dan tenaga kependidikan masih belum merata dan belum mencapai target. Dia mengatakan, di setiap daerah ada kendala masing-masing dalam proses vaksinasi.

Berita Terkait : Mas Menteri: Sekolah Tatap Muka Nggak Perlu Nunggu Juli, Mei Juga Bisa

"Akhirnya guru dan tenaga pendidik yang belum divaksinasi merasa resah. Sekolah sudah mulai uji coba tatap muka, namun mereka belum kunjung divaksinasi," ungkap Iman yang menerima laporan P2G Daerah.

Untuk di Jakarta, kata dia, proses vaksinasi guru sedang dilakukan. Walaupun sebagian besar khususnya guru swasta belum divaksinasi. 

Sementara, Jakarta sudah memulai uji coba PTM terhadap 85 sekolah. Namun P2G mempertanyakan, apa dan bagaimana kriteria penentuan 85 sekolah tersebut sebagai sekolah awal yang ditentukan oleh Dinas Pendidikan.

Menurut Iman, P2G menemukan fakta, untuk jenjang SMA, justru dari 85 sekolah, tidak ada satupun SMA Negeri di Jakarta yang menjadi piloting, sebab yang ditunjuk adalah SMA Swasta. 

Hal ini diduga kuat karena sekolah SMA Negeri di Jakarta belum mengisi dan melengkapi daftar periksa yang dibuat Kemendikbud. 

Berita Terkait : Gibran: Sekolah Tatap Muka Dibuka Juli, Nggak Boleh Mundur

"Sangat disayangkan, jika SMA Negeri di Jakarta belum menyiapkan daftar periksa dan sarana pendukung protokol kesehatan," ungkapnya.

Selain itu, P2G menilai selama ini tidak ada sanksi tegas dari Pemerintah Daerah atau Satgas Covid-19 Daerah bagi sekolah melakukan pelanggaran prokes. 

“Baik di sekolah maupun aktivitas selepas pulang sekolah," katanya. [NNM]