Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pemprov Jabar Siapkan 2.400 Bed Tambahan, Kalau Terjadi Lonjakan Luar Biasa, Baru Bikin RS Darurat
Minggu, 20 Juni 2021 17:58 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemprov Jawa Barat menyiapkan 2.400 tempat tidur tambahan di rumah sakit, untuk pasien Covid-19.
Saat ini, 382 rumah sakit di Jabar sedang mengalami lonjakan pasien dan petugas medis kewalahan.
Hal itu diungkapkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat mengunjungi RSUD Al-Ihsan dan RSUD Otto Iskandardinata di Kabupaten Bandung, Sabtu (19/6).
Gubernur yang akrab disapa Kang Emil itu menjelaskan, tingkat keterisian rumah sakit (BOR) yang sedang hangat dibicarakan publik.
“Yang sekarang terjadi itu, jatah tempat tidur untuk Covid-19 memang mendekati 100 persen. Namun, bukan dari total seluruh jumlah tempat tidur di RS tersebut. Misalnya dari 500 bed, jatah Covid-nya 20 persen. Berarti kan 100 tempat tidur. Nah kalau 100-nya kepake, itu baru 100 persen. Tapi, bukan 100 persen dari 500,” jelas Kang Emil.
Karena itu, gubernur bersama Satgas Covid-19 Jabar mengantisipasi, dengan menambah setiap rumah sakit, yang mengalami peningkatan keterisian tempat tidurnya.
Baca juga : PUPR Siapkan Tenaga Kerja Handal Untuk Bangun Rumah Subsidi
Dari 382 rumah sakit rujukan, tingkat keterisian memang terus meningkat. “Sehingga pada tahap sekarang sesuai prosedur kedaruratan Covid-19, Pemprov Jabar menambahi dari yang rata-rata 20 persen, menjadi 30 persen. Bahasa singkatnya, sedang dipersiapkan 2.400 tempat tidur baru,” terang Kang Emil.
Kang Emil mengapresiasi penanganan yang dilakukan RSUD Al-Ihsan, yang memanfaatkan gedung perawatan anak untuk dijadikan sebagai tempat pasien Covid-19.
“Sehingga, Al-Ihsan yang hari ini jatah bed Covid-nya sudah penuh 100 persen, ditambahi 50 kurang lebih, maka masih ada yang dapat digunakan. Kalau masih kurang lagi, nanti kita pikirkan lagi,” paparnya.
Kang Emil menjelaskan, apabila setiap rumah sakit mengalami peningkatan keterisian tempat tidur - walaupun sudah dinaikkan menjadi 40 persen -, Jabar akan menyiapkan rumah sakit darurat untuk mengantisipasi lonjakan tersebut.
“Jadi urutannya begini. Dari 20 persen yang dialokasikan sekarang, kebijakannya dinaikkan menjadi 30 persen. Kalau masih kurang, dinaikkan lagi ke 40 persen. Sampai betul-betul tidak memungkinkan, barulah masuk ke tahap berikutnya yaitu membuat rumah sakit darurat,” papar Kang Emil.
Tak hanya itu, Kang Emil akan memanfaatkan gedung baru RSUD Otto Iskandardinata yang berada di Soreang, Kabupaten Bandung untuk dijadikan tempat perawatan pasien Covid-19.
Baca juga : Pemudik Bersepeda Motor Mulai Terlihat Di Jalan Raya Bandung-Garut
“Memang, awal rencananya yang Covid-19 di rumah sakit lama di Soreang, rumah sakit umum Soreang pindah ke sini (RSUD Otista). Tapi, mengingat urgensi waktu tinggal dua minggu menurut statistik kedaruratan, saya menyarankan ke bupati agar ini langsung saja untuk pasien Covid-19,” katanya.
“Mudah-mudahan, strategi penambahan ini, bisa mengurangi tekanan terhadap rumah sakit,” harap Kang Emil.
Fasilitas yang tersedia di RS baru tersebut, menurut Kang Emil sangat memadai. Sudah ada fasilitas kasur untuk tempat tidur pasien, ruangannya pun masih bersih.
“Karena rumah sakit baru, tentu fasilitas kasur sudah ada, bed-nya memadai, tinggal alat kesehatan yang berhubungan. Covid-19 ini rata-rata tidak terlalu membutuhkan alat khusus. Kecuali, kelompok yang masuk ICU, yang nanti akan ada tambahan SDM dari Pemprov,” terang Kang Emil.
Pemda Provinsi Jabar pun telah bekerja sama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), untuk mengisi kekurangan tenaga kesehatan di RS yang rujukan pasien COVID-19 dan juga RS baru di Soreang.
“Kemarin, kita sempat memberhentikan 500 relawan nakes. Karena pas shalat Idul Fitri, keterisian rumah sakit se-Jabar hanya 29 persen. Maka, relawan-relawannya kami pulangkan dulu. Nah sekarang kita panggil lagi, karena memang kondisinya seperti ini,” cetusnya.
Baca juga : Pertagas Bagikan 1.000 Masker Untuk Warga Bukit Batrem Riau
Kang Emil mengingatkan konversi tempat tidur ke pasien Covid-19 tetap memiliki dampak risiko penurunan layanan bagi pasien non Covid-19. Seperti kecepatan layanan dan kesediaan nakes di saat bersamaan.
“Risikonya tinggi bagi pasien non Covid-19. Apalagi, memasuki musim pancaroba, yang trennya juga sedang naik,” sebut Kang Emil.
Untuk itu, ia mengimbau warga untuk selalu mematuhi protokol kesehatan 5M. Semakin sedikit pasien Covid-19 yang masuk rumah sakit, kamar untuk semua pasien akan menjadi makin leluasa. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya