Dewan Pers

Dark/Light Mode

Konflik AS Vs China Meluas

Indonesia Berpotensi Jadi Kawasan Tempur

Jumat, 25 Juni 2021 19:47 WIB
Ilustrasi prajurit TNI menaiki sejumlah kendaraan tempur saat parade alutsista pada perayaan HUT TNI di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Ilustrasi prajurit TNI menaiki sejumlah kendaraan tempur saat parade alutsista pada perayaan HUT TNI di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Rizal Darma Putra melihat ada kemungkinan Indonesia terkena imbas dari meluasnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan China di Laut China Selatan (LCS). Indonesia berpeluang menjadi kawasan petempuran (battleground).

"Ada kemungkinan terjadi spill over atau konflik di beberapa negara di Laut China Selatan. Dan, konflik itu bisa merembes ke wilayah Indonesia," ungkap Rizal dalam webinar dengan tema Urgensi Modernisasi TNI, Kamis (24/6).

Menurut Rizal, mau tidak mau Indonesia akan terseret dalam konflik besar itu. Dengan kondisi itu, maka Indonesia harus melibatkan diri. Entah apakah dengan ikut terlibat dalam konflik, atau membendung rembesan konflik tersebut ke wilayah NKRI dengan operasi militer.

“Kebutuhan Indonesia memperkuat kekuatan pertahanan cukup mendesak. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan memodernisasi Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista),” cetusnya.

Berita Terkait : Kemenperin Kebut Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik

Dia tidak sepakat dengan argumentasi sejumlah pihak yang memandang modernisasi Alutsista tidak mendesak dengan alasan saat ini Indonesia sedang tidak dalam ancaman untuk perang.

”Saya kira  asumsi yang keliru," tegasnya.

Rizal mengatakan, memodernisasi Alutsista erat kaitannya dengan kesiapan tempur. Jika tidak ada modernisasi Alutsista maka kesiapan tempur TNI juga merosot.

“Tanpa adanya kesiapan tempur, yang akan berpotensi terjadi itu pelanggaran kedaulatan dan penjarahan Sumber Daya Alam kita," tuturnya.

Berita Terkait : Konvensi ALB Belum Dapat Izin, Munas Kadin Berpotensi Ditunda

Pandangan serupa disampaikan Pakar militer CSIS, Evan Laksmana. Menurutnya, konflik di kawasan Indo-Pasifik, termasuk konflik di Laut Cina Selatan, bakal semakin rumit ke depan. Dan, Indonesia berpeluang terkena imbasnya.

"Akan semakin banyak hot spot dan regional flash point dari yang sifatnya konvensional maupun non-konvensional," ujarnya.

Di tengah potensi peningkatan eskalasi, lanjutnya, pengamanan laut dan udara bangsa ini sangat penting. Sebab, laut dan udara Indonesia memiliki nilai strategis.

"Jalur tercepat untuk menurunkan kekuatan militer masing-masing adalah melalui wilayah laut dan udara Indonesia," ucapnya.

Berita Terkait : Mantap, Indonesia Terpilih Lagi Jadi Anggota Reguler GB-ILO

Evan mendorong Pemerintah membuat cetak biru (blue print) Alutsista jangka panjang pasca program Minimum Essential Force (MEF) berakhir pada 2024. [SRF]