Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Kritik Untuk Merdeka
Tentu saja kondisi hari ini berbeda dengan zaman kolonial. Hari ini tak ada lagi bedil VOC yang dikokang sembarangan ke mulut orang hanya karena kritik. Atau pedang Dai Nippon yang dihunus di batang leher gegara demonstrasi. Karena kita sudah merdeka.
Tapi, apakah merdeka? Kata “merdeka” sebenarnya tidak mudah didefenisikan, bahkan oleh Bung Karno sekalipun. Wajar jika Tan Malaka pernah marah besar kepada Bung Karno, dan juga Hatta, Sjahrir, dan Agus Salim, yang pada suatu malam di tanggal 24 Januari 1946 sedang duduk berdiskusi tentang kebangsaan sambil sesekali tertawa riang karena kemerdekaan yang baru diraih 5 bulan lalu.
Baca juga : Citilink Vaksinasi Penumpang Yang Berangkat Dari Soekarno-Hatta
Tan mendatangi sambil melontarkan kritiknya kepada keempat kawannya itu; “kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan.… Hari ini aku melihat kemerdekaan hanya milik kaum elit yang mendadak bahagia menjadi borjuis, suka-cita menjadi ambtenaar….kemerdekaan hanya milik kalian, bukan milik rakyat! Dengarlah perlawananku ini, apabila kalian tetap bersikap seperti ini, maka inilah hari terakhir aku datang sebagai sahabat dan saudara. Esok, adalah hari dimana aku menjelma menjadi musuh kalian!!!”
Setelah Tan menggugat, tak satu kata pun terucap. Suasana hening. Keempat tokoh itu hanya tertegun dan membiarkan Tan Malaka pergi meninggalkan teras rumah Bung Karno yang mendadak berubah suhunya. Bung Karno tiba-tiba memecah kesunyian dan berkata: “Dia sungguh menghinaku, meremehkan semangat kerakyatanku!”
Apa yang dikritik Tan Malaka bukan semata perkara defenisi. Tentu saja orang bisa berbeda-beda mendefenisikan arti merdeka, tapi bukan itu soalnya. Yang penting dari sikap Tan adalah keberaniannya menggugah kesadaran yang nyaris hilang dari jiwa para pejuang.
Baca juga : AP II Buka Vaksinasi Gratis Di Bandara Soekarno Hatta
Sebab, kekuasaan dapat berpotensi membius siapapun untuk hidup senang di atas penderitaan banyak orang. Bahkan bisa membuat sang pejuang lupa tujuan, yaitu menyejahterakan rakyat, yang adil dan makmur.
Tapi Bung Karno, Bung Hatta, dan kawan-kawan tidak anti kritik. Mereka tidak lantas memenjarakan Tan Malaka yang terang-terangan melawan. Meski di kemudian hari Bung Karno dan Hatta pun harus pecah kongsi. Hatta berbalik mengkritik keras Soekarno yang dianggap menjadi penyebab “pembangunan yang tak berjalan semestinya; kemakmuran rakyat yang jauh dari cita-cita, nilai uang yang jatuh tertimpa; demokrasi terlantar akibat percekcokan politik sia-sia; dan pelaksanaan otonomi daerah yang berjalan tak tentu arah”, begitu tulis Hatta dalam Demokrasi Kita.
Dari sejarah kita belajar, bahwa bangsa ini didirikan dengan semangat untuk melawan segala bentuk keterjajahan. Dan semangat itu tidak lain dilandasi oleh jiwa merdeka untuk mengkritik dan mengkritik untuk merdeka.
Baca juga : BMKG Ramal Sejumlah Daerah Diguyur Hujan Lebat
Dari sejarah kita memahami, bagaimana kekuasaan dapat merusak idealism sang tokoh; yang tegas bisa menjadi lemah, yang sederhana bisa menjadi gila kuasa. Juga tentang klaim-klaim negara demokrasi di era orde-lama sampai orde-baru yang faktanya bisa berujung otokrasi, atau setidaknya yang “pura-pura demokrasi” (pseudo-demokrasi). Oleh karenanya, kritik terhadap kekuasaan harus selalu diajukan.
Dari Hatta kita belajar; tentang kesungguhan berilmu; tentang keterbukaan sikap, dan tentang kemandirian dan keyakinan kuat. Hatta adalah figure yang tekun berilmu, terbuka dari kritik, mandiri dalam hidup, dan berkeyakinan kuat. Hatta begitu yakin, bahwa demokrasi dapat ditindas sementara tapi akan insyaf pada waktunya; bahwa bangsa ini meski dijajah ratusan tahun lamanya tapi akan bangkit dan merdeka.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya