Dark/Light Mode

Kasus Baru Tembus 31 Ribu, Kasus Kematian 700 Orang, BOR 6 Provinsi Di Jawa 80%, Pasien Sulit Dapat Perawatan

Rumah Sakit Kolaps

Rabu, 7 Juli 2021 08:00 WIB
Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda barak yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta. (Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah)
Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda barak yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta. (Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah)

 Sebelumnya 
“Jadi beberapa tempat yang terjadi gelombang kedua sudah konversi banyak lebih dari 50 persen untuk Covid dan tekanannya sudah mulai terasa. Tapi di beberapa daerah seperti Jawa Timur, Bali dan Yogyakarta masih sedikit,” papar Menkes.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi menegaskan, pihaknya bakal berupaya sekuat tenaga agar RS tidak kolaps.

“Kalau kondisi terus terjadi fasyankes akan kolaps. Tapi kita berusaha untuk memperbaiki terus kondisi ini,” ujar Siti saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca juga : Bisa Tampung 24 Ribu Orang, Anies Sulap PRJ Jadi Ruang Isolasi

Dia menyebut peningkatan kasus karena testing dan tracing ikut meningkat. “Supaya segera menemukan yang sakit dan diisolasi, serta mendapat penanganan dini sehingga tidak menjadi sumber penularan, dan tidak jatuh pada kondisi berat,” pungkasnya.

Bagaimana tanggapan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)? Wakil Ketua Umum IDI, Slamet Budiarto mengatakan, seharusnya pemerintah mengumumkan saja jika rumah sakit sudah kolaps. Artinya pasien Corona jauh lebih besar dari tempat tidur yang disediakan.

Menurut dia, hal ini bisa dilihat dari UGD-UGD dan selasar rumah sakit yang penuh oleh pasien Corona.

Baca juga : Duka Karena Corona Datang Silih Berganti

“Tidak perlu malu-malu bilang BOR baru 90 persen. Ini sudah 120 persen. 20 persen di UGD dan 100 persen di dalam rumah sakit. Ini bencana kemanusiaan,” ujarnya dalam sebuah kutipan video wawancara yang beredar di media sosial, kemarin.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman juga menilai, saat ini RS tidak dalam keadaan baik.

“Kalau si rumah sakit sudah nggak bisa beri layanan pada ke publik, misal ada orang dengan kebutuhan untuk dapat oksigen atau penanganan lain itu enggak ada, dan terjadi antrian, itu kolaps,” cetusnya. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.