Dewan Pers

Dark/Light Mode

Buruh Tertular Covid-19, Banyak Yang Nggak Lapor Ke Perusahaan

Minggu, 18 Juli 2021 09:49 WIB
Presiden KSPI Said Iqbal (Foto: Istimewa)
Presiden KSPI Said Iqbal (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyatakan, banyak buruh yang positif terinfeksi Covid-19. Hal ini mengancam dunia usaha. Presiden KSPI Said Iqbal mengungkapkan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan organisasi itu, lebih dari 10 persen buruh di kawasan industri manufaktur sudah terinfeksi Covid-19. 

“Karena setiap pabrik ada ratusan buruh yang bekerja, di antara mereka sudah banyak yang terinfeksi Covid-19,” ujar Said dalam diskusi virtual, kemarin. 

Berita Terkait : Ngangkut Oksigen 122 Ton, KAI Nggak Tarik Bayaran

Sayangnya, sampai saat ini masih banyak pekerja yang tidak melapor ke perusahaan. Said menceritakan, beberapa waktu lalu satu perusahaan di Karawang melakukan tes terhadap para pekerjanya yang berjumlah sekitar 1.700 buruh. “Setelah dilakukan pemeriksaan Covid-19, ada sekitar 200 buruh yang positif,” ungkapnya. 

Said menyebutkan, rata-rata angka buruh terpapar Covid-19 setelah tes PCR (Polymerase Chain Reaction) mencapai lebih dari 10 persen. Ironisnya lagi, dipaparkan Said, ada beberapa perusahaan yang melarang para buruh terinfeksi Covid-19 untuk melaporkan ke fasilitas kesehatan (faskes). 

Berita Terkait : NasDem Minta Rakyat Siap “Seragam Perang”

Said menduga, pemilik pabrik atau perusahaan khawatir tempat usaha mereka akan ditutup jika ketahuan ada buruh yang terinfeksi virus Corona. Bagi buruh, ini juga akan merugikan mereka. “Khawatir juga nanti buruh itu sendiri yang justru harus dirumahkan atau dipotong gajinya. Jadi seperti ada wanti-wanti terselubung, ‘kalau kamu isoman jangan lapor ke Satgas’,” beber Said. 

Masalahnya, mereka yang dilarang untuk melapor dan menjalani isolasi mandiri di rumah, tidak diberikan bantuan. Akhirnya, para buruh ini menjalani isolasi mandiri selama 14 hari tanpa obat dan vitamin. Membeli sendiri pun sulit karena harga obat-obatan dan vitamin sempat melonjak tinggi lantaran minimnya ketersediaan. Sementara BPJS, tidak menanggung biayanya. 

Berita Terkait : Gelar Vaksinasi Covid-19, Bank DKI Dijempolin Anies

“Akhirnya, penanganan kesembuhan mereka tidak begitu baik. Pada beberapa kasus bahkan berujung dengan kematian. Beberapa menularkan ke keluarga. Jadilah klaster buruh,” jelas Said. 

Angka kematian buruh, memang belum tercatat detail. Tapi Said menduga, ada banyak buruh yang meninggal. Dia membeberkan, di salah satu perusahaan otomotif Bekasi sudah ada 15 orang buruhnya yang meninggal. “Lalu perusahaan lainnya di Bandung ada 5 orang, bahkan di Purwakarta ada 20 orang buruh meninggal dalam satu perusahaan karena Covid-19,” ungkap Said. [JAR]