Dark/Light Mode

Masyarakat Sering Salahartikan Relaksasi Sebagai Kondisi Aman

Selasa, 20 Juli 2021 22:10 WIB
Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito (Foto: Setpres)
Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito (Foto: Setpres)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kebijakan relaksasi di tengah pandemi Covid-19 yang dikeluarkan Pemerintah kerap disalahartikan di lapangan. Banyak masyarakat menganggap, relaksasi sebagai kondisi aman dari Covid-19. 

"Relaksasi kerap disalahartikan sebagai keadaan aman, sehingga protokol kesehatan dilupakan. Penularan pun kembali terjadi di masyarakat hingga menyebabkan kasus kembali meningkat," kata Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, Selasa (20/7), seperti dikutip Antara.

Wiku membeberkan, saat relaksasi selama 13-20 pekan terakhir, angka kasus Covid-19 di Tanah Air meningkat hingga 14 kali lipat. Karena itu, perlu menjadi refleksi penting pada pengetatan yang saat ini dilakukan.

Berita Terkait : Langkah Jokowi yang Batalkan Vaksinasi Berbayar Diapresiasi

Menurut dia, selama ini keputusan relaksasi sering tidak diikuti dengan sarana prasarana fasilitas pelayanan kesehatan dan pengawasan protokol kesehatan yang ideal. Karena itu, diperlukan kesepakatan dari seluruh unsur pemerintah dan masyarakat sebagai kunci agar kebijakan relaksasi berjalan efektif dan aman serta tidak memicu kasus kembali melonjak.

"Relaksasi kebijakan perlu kehati-hatian. Berkaca pada langkah 'gas-rem' yang diambil pemerintah selama satu setengah tahun pandemi ini, ternyata langkah relaksasi yang tidak tepat dan tidak didukung oleh seluruh lapisan masyarakat dengan baik dapat memicu kenaikan kasus yang lebih tinggi," katanya.

Ia menambahkan, pemerintah sudah melaksanakan tiga kali kebijakan pengetatan dan relaksasi dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. "Saat ini, menjadi pengetatan yang keempat. Mekanisme pengetatan rata-rata dilakukan selama 4-8 pekan dengan efek melandainya kasus atau bahkan dapat menurun," katanya.

Berita Terkait : Bantu Masyarakat Yang Isoman, Pemkot Tangerang Siapkan 8 Ribu Paket Sembako

Pengetatan yang telah berjalan selama dua pekan tersebut, katanya, sudah terlihat hasilnya. Seperti penurunan keterisian tempat tidur perawatan pasien di provinsi di Jawa-Bali serta mobilitas penduduk yang menunjukkan tren penurunan.

Namun, ia menyorot penambahan kasus Covid-19 yang sedang dihadapi Indonesia. "Hingga saat ini, kasus masih mengalami peningkatan hingga dua kali lipat dengan jumlah aktif 542.938 atau 18,65 persen," ujarnya.

Kenaikan angka kasus tersebut tidak terlepas dari fakta bahwa berbagai varian Covid-19 saat ini telah masuk ke Indonesia. Khususnya varian Delta yang telah mencapai 661 kasus di Jawa Bali. [USU]