Dewan Pers

Dark/Light Mode

Semangat Dan Perjuangan Melawan Covid

Sembuh Berarti Diberi Kesempatan Berbuat Baik Untuk Orang Lain

Minggu, 1 Agustus 2021 07:30 WIB
Ilustrasi, pasien Covid-19 saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Jakarta . (Foto: Tedy Kroen/RM)
Ilustrasi, pasien Covid-19 saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Jakarta . (Foto: Tedy Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - “Saya harus hidup. Saya harus semangat. Saya bisa kalahkan virus ini….”

Kalimat itu berulang-ulang diteriakan seorang pasien Covid-19 saat dirawat di rumah sakit. Saturasinya ngedrop, badan demam menggigil 40 derajat Celcius dengan batuk yang menyakitkan dan perut mual melilit.

“Semua rasa yang tidak enak muncul dalam waktu bersamaan, seperti orchestra yang menyakitkan. Seolah mau pingsan,” kisahnya.

Berita Terkait : Nusantara Perang Lawan Covid, Negeri Kiwi Bantu Lagi Rp 15 M

Flash back beberapa hari sebelumnya. Badan meriang, tidak nyaman. Sadar diri kemungkinan kena Covid, dia lalu melakukan tes PCR. Eh, hasilnya negatif. Tapi, selang tiga hari didera anosmia. Rasa makanan semua hambar. Indra penciumannya seketika hilang. Test PCR ulang, barulah hasil positive, dengan CT 21.

Sempat merasa yakin kuat, tapi kemudian roboh, dan berusaha keras mencari rumah sakit. “Telepon sana sini, minta tolong banyak orang, karena kondisi rumah sakit dimana-mana penuh. Akhirnya dapat tempat. Saya bersyukur,” ujarnya.

Ketika dibawa ke UGD, kondisi sudah kepayahan. Tubuhnya kekurangan oksigen dan lemas. Istrinya lebih parah lagi. Di tempat tidur, posisi badan berputar-putar, melingkar-lingkar. Efek dari sakit perut dan mual yang tak tertahankan, hingga muntah-muntah. “Jika telat sehari masuk rumah sakit, mungkin cerita akan lain,” katanya.

Berita Terkait : Puan: 5 Hari Ke Depan Adalah Ujian Penting

Dia yang diceritakan ini, bukanlah orang biasa. Jabatannya sekarang Direktur Utama sebuah BUMN. Dalam kacamata awam, di posisi itu, tentu banyak kemudahan bisa diperoleh menyangkut segala macam fasilitas, termasuk urusan kesehatan. Tapi faktanya, sama saja. Di saat Corona di Jakarta menggila, tiga pekan lalu, mencari rumah sakit amatlah sulit. Harus antre untuk dapat kamar perawatan.

Cerita lain, dari seorang karyawan yang pekerjaan sehari-harinya, pengawas konstruksi sebuah proyek nasional. Selama pandemi, tugas ke lapangan nyaris tak berkurang. Akhirnya terinfeksi. Mau tak mau istirahat kerja. Sehari dua hari, merasa demamnya biasa saja, sekitar 37 derajat Celcius lebih sedikit. Lalu dites swab PCR, ketahuan positif dengan CT 12. Sempat isolasi mandiri di rumah, tapi mengalami perburukan. Hari ketujuh napas sesak, saturasi ngedrop, keringat dingin keluar tiap malam dan sering mengigau.

Istrinya sangat khawatir. Tengah malam, dia bawa suaminya ke rumah sakit mencari oksigen. Naas, pukul 01.00 tengah malam, oksigen di UGD sebuah RS swasta habis. Tak mungkin balik pulang ke rumah, dia nekat membawa suaminya ke Jakarta Utara. Berharap ada tempat kosong di UGD RS kawasan Kelapa Gading. Ternyata ditolak. RS di situ pun sudah full. Bahkan, di ruang tunggunya, subuh dini hari itu, pasien Covid banyak yang antre sambil duduk terkulai. Ada yang membawa tabung oksigen sendiri. Tapi lebih banyak yang tidak. Melihat ini, istrinya lemas. Entah harus kemana lagi.
 Selanjutnya