Dark/Light Mode

Varian Covid Lokal Dipantau WHO

Belum Bahaya, Sudah Bikin Merinding

Senin, 20 September 2021 06:21 WIB
Ilustrasi. Varian baru virus Corona. (Foto: SHUTTERSTOCK/Lightspring).
Ilustrasi. Varian baru virus Corona. (Foto: SHUTTERSTOCK/Lightspring).

RM.id  Rakyat Merdeka - Berbagai varian baru virus Corona mulai terdeteksi. Tidak terkecuali varian Covid-19 asli Indonesia yang saat ini sedang dalam pantauan World Health Organization (WHO).

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Siti Nadia Tarmizi membenarkan varian virus Corona asli Indonesia masuk pantauan WHO. Namun, varian itu masih dikategorikan sebagai alert for further monitoring atau dalam pemantauan.

“Nama varian asli Indonesia itu adalah B.1466.2. Saat ini, ada 1.732 kasus yang ditemukan dengan varian itu,” ungkapnya.

Nadia mengungkapkan, varian tersebut sudah dideteksi sejak lama, yakni November 2020. Dan, baru masuk pantauan WHO pada April 2021. Jumlah varian B.1466.2 banyak ditemukan Indonesia.

Berita Terkait : Divaksin Covid? Ngapain Takut

“Kewaspadaan, karena jumlahnya banyak di Indonesia, tapi belum menyebar ke negara lain. Jadi lokal,” ujar dia.

Nadia mengatakan, gejala penderita varian B.1466.2 relatif sama dengan yang lainnya. Mulai dari demam, batuk kering, kelelahan, sakit kepala, hilangnya indra penciuman atau perasa hingga sulit bergerak.

Sementara Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan, varian B.1.466.2 tidak berpotensi menimbulkan bahaya. Dia bilang, varian lokal Indonesia sudah sangat kalah dibanding varian Delta.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio juga senada. Dia membenarkan ditemukannya varian asli Indonesia. Namun, statusnya tidak termasuk berbahaya. “Sejauh ini tidak masuk variants of interest (VOI) maupun variants of concern (VOC),” kata Amin.

Berita Terkait : Jangan Fokus Di Jawa-Bali, Daerah Diurusi Juga Dong

Ketua Tim Riset Whole Genome Sequencing (WGS) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra menambahkan, varian B.1.466.2 pertama kali ditemukan di Bekasi.

Varian lokal tersebut sempat mendominasi penularan Covid-19 di Indonesia pada Maret 2021 hingga 57 persen, sebelum akhirnya varian Delta mendominasi di Indonesia.

“Iya (sempat) masif, tapi dulu tak terbahas karena keterbatasan untuk melakukan whole genome sequencing juga. Saat ini data genom sudah banyak dan bisa bicara banyak dan (jadi) tahu juga kalau dulu varian lokal pernah mendominasi,” ungkapnya.

Dalam situs resminya, WHO mengungkapkan, varian B.1.466.2 masuk kategori alerts for further monitoring, karena pengaruhnya di masyarakat masih belum jelas. Varian ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Berita Terkait : Tracing Jangan Dikendorkan

“Kategori varian alerts for further monitoring dapat diartikan sebagai dugaan perubahan-perubahan genetik yang memengaruhi karakteristik virus dengan beberapa indikasi varian itu dapat menimbulkan risiko di masa depan,” tulis WHO dikutip dari situs resminya.
 Selanjutnya