Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kader PMII Harus Siap Jadi Ketum PBNU Dan Presiden

Senin, 27 September 2021 13:21 WIB
Mantan Ketua Umum PB PMII dan Anggota Majelis Pertimbangan PB IKA PMII Hery Haryanto Azumi. (Foto: Ist)
Mantan Ketua Umum PB PMII dan Anggota Majelis Pertimbangan PB IKA PMII Hery Haryanto Azumi. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan berusia lebih dari enam dasawarsa, telah melaksanakan tugas yang diemban dari organisasi induknya, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Saat lahir, PMII mendapat amanah dari para ulama yang waskita untuk menyiapkan barisan kader yang akan memimpin NU ke depan. PMII yang pada awal berdirinya banyak berkembang di kampus-kampus agama, saat ini telah menjangkau kampus-kampus terbaik di Indonesia bahkan mulai merambah ke luar negeri.

Karena alasan sejarah tersebut, mantan Ketua Umum PB PMII dan Anggota Majelis Pertimbangan PB IKA PMII Hery Haryanto Azumi meminta, kader-kader PMII wajib berkiprah dalam organisasi induknya dan di kancah nasional.

"PMII telah mengalami transformasi yang luar biasa sehingga membuatnya menjadi organisasi yang tidak hanya memikirkan NU tetapi juga memikirkan negara dan bahkan dunia," ungkap Hery di sela-sela Pelantikan PW IKA PMII Bali di 100 Sunset Hotel Badung, Bali, akhir pekan lalu.

Berita Terkait : Aparatur Negara Harus Jadi Public Speaker Bumikan Pancasila

Oleh karena itu, lanjut aktivis NU ini, IKA PMII harus memiliki tanggung jawab yang utuh terhadap bangsa dan negara dengan mengajukan kader-kadernya untuk menjadi pemimpin komunitas sekaligus pemimpin negara.

"Konsekuensi dari tanggung jawab keuamatan dan kebangsaannya, IKA PMII harus selalu menyiapkan stok kader untuk kepemimpinan NU dan Bangsa ini. Kader PMII harus selalu siap menjadi Ketua Umum NU dan Presiden Indonesia," tegas Mas Hery yang juga dipercaya sebagai Anggota Dewan Pakar Perhimpunan Indonesia-Tionghoa ini.

Namun demikian, Mas Hery mengingatkan, PMII tidak boleh sekadar berjuang mengejar jabatan organisasi dan pemerintahan tanpa menjiwai batin masyarakat. Bagi PMII, kepemimpinan nasional adalah konsekuensi lanjut dari kepemimpinan komunitas di berbagai tingkatan dan daerah.

Di forum yang sama Ketua Umum PB IKA PMII KH. Ahmad Muqowam menyampaikan kepada seluruh jajaran pengurus IKA PMII Bali agar senantiasa berdampingan dengan NU dan semua organisasi dan institusi yang berkembang dan mengakar di masyarakat.

Berita Terkait : Kelapa Sawit Harus Jadi Bagian Aset Nasional

"Bendera PMII harus berdampingan dengan bendera NU dan Merah Putih di semua tingkatan untuk menunjukkan komitmen sekaligus jangkauan tanggung jawab yang harus diemban oleh semua kader dan alumni PMII di semua tingkatan," ingatnya.

Muqowam juga giat mengajak kader dan alumni PMII seluruh Indonesia untuk mendampingi proses transformasi dan transisi menuju Abad Ke-2 Nahdlatul Ulama.

"Kita harus meneruskan perjuangan para pendahulu PMII yang telah wafat seperti KH. Ahmad Bagdja dan KH. Muhyidin Arubusman, yang mewanti-wanti agar PMII bertanggung jawab membuat peta jalan atau roadmap NU Abad Ke-2," ungkapnya.

Senada dengan Mas Hery dan Muqowam, Ketua PWNU Bali KH. Abdul Aziz, menambahkan, kader dan alumni PMII jangan pernah menjauh dari NU di manapun berada. Karena PMII adalah sumber rekrutmen para pengurus NU.

Berita Terkait : Wamenag: Mahasiswa Harus Siap Hadapi Era Society 5.0

"NU akan sangat kehilangan jika PMII semakin menjauh dari NU. Ini jangan pernah terjadi sehingga NU diisi oleh SDM yang tidak memahami jiwa perjuangan para pendahulunya," ujar Kiai Aziz menutup dialog terbatas NU dan PMII Bali ini. [FAQ]