Dewan Pers

Dark/Light Mode

Habib Syakur Ingatkan Bahaya Radikalisme Lewat Medsos

Minggu, 17 Oktober 2021 14:51 WIB
Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid (Foto: Istimewa)
Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid mendukung Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88, dalam mengantisipasi ancaman regenerasi kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI).

Kelompok yang memiliki paham jihad dengan kekerasan ini, terus berganti wajah dan merekrut masyarakat umum.

Hal itu disampaikan Syakur dalam bincang RRI dengan topik "Mewaspadai Regenerasi Kelompok Teroris Jamaah Islamiyah", Minggu (17/10).

"Densus 88 wajib mewaspadai kelompok teroris Jamaah Islamiyah, di samping mengintervensi segala bentuk kegiatannya. Baik dalam bentuk pelatihan atau lainnya," kata Syakur.

Dia mengingatkan, berdasarkan pengalaman terdahulu, sudah banyak dampak yang diperbuat oleh kelompok teroris JI.

Berita Terkait : Dokter Ingatkan Pentingnya Vitamin D Bagi Kesehatan Tubuh

Karena itu, Syakur mengimbau seluruh masyarakat untuk memberi dukungan kepada Densus 88.

"Kita harus memberikan dukungan kepada Densus 88. Karena, Densus 88 mengemban amanah rakyat untuk mewujudkan keutuhan NKRI. Rakyat wajib mendukung sepenuhnya Densus 88. Terbukti, Densus 88 telah penuh berkhidmat mengabdi kepada rakyat untuk mewujudkan keteduhan NKRI," paparnya.

Syakur menyebut, pelatihan-pelatihan yang digelar kelompok JI, sangat memicu kekhawatiran. Kelompok ini, tegasnya, adalah orang-orang yang salah memahami agama. Yang cenderung membuat bangsa gaduh.

Oleh karena itu, menurut Syakur, salah satu kunci menangkal paham terorisme, radikalisme, dan intoleran, ialah menguatkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.

"Pancasila merupakan ruh seluruh rakyat Indonesia dalam membina komunikasi dan silaturahmi dalam beragama. Singkat cerita, regenerasi kelompok teroris JI harus kita awasi ketat," jelas dia.

Berita Terkait : Kementan Libatkan Masyarakat Tekan Rabies Lewat KASIRA

Di samping itu, menurut Syakur salah satu cara menangkal berkembangnya paham-paham radikalisme ialah keteduhan dalam menyampaikan nilai-nilai agama.

Jika ada orang yang mengaku beragama mengatasnamakan Islam, tapi bertindak brutal, intoleran, itu bukanlah bagian dari Islam.

Karena itu, deteksi dini dari paham-paham radikal, intoleran harus dimulai dari pengawasan di lingkungan keluarga. Masyarakat harus betul-betul memahami keadaan dan situasi dalam lingkungannya sendiri.

"Karena pengaruh dari medsos sangat mengerikan. Jujur saja, negeri kita tercinta ini akan sangat terkikis habis peradaban yang sangat luhur ini, dengan pengaruh medsos. Jadi, kita harus mendampingi putra-putri kita secara arif dan bijaksana dalam menggunakan medsos," terang Syakur.

Selain anak-anak, sesama masyarakat harus memperhatikan komunikasi di sekitarnya.Yaitu memastikan lingkungannya tidak terpapar paham radikalisme, dan jntoleran.

Berita Terkait : HNW Ingatkan Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan Bagi Milenial

Jika ada yang mencurigakan, maka wajib berkonsultasi dan berkoordinasi dengan RT/RW bahkan lurah.

RT/RW, Lurah, Babinsa, Babinkamtibmas, juga menjalin komunikasi untuk mengawasi secara dini pengaruh-pengaruh paham radikalisme dan intoleransi.

"Jangan sampai, paham teroris itu muncul. Terus terang  teroris itu adalah monster yang bisa melumpuhkan, merusak meluluhlantakkan jati diri kita sebagai insan suci Pancasila dan insan Indonesia yang sejati," terangnya.

Secara umum, peta persebaran anggota Jamaah Islamiyah telah menurun, dejak salah satu tokoh dan figur kelompok Jamaah Islamiyah Abu Rusydan ditangkap. Namun, regenerasinya harus tetap diwaspadai. [UMM]