Dewan Pers

Dark/Light Mode

68 Kota Inflasi

BPS: Sampit Paling Tinggi

Selasa, 2 Nopember 2021 08:30 WIB
Tangkapan layar - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/11/2021). (Foto: rm.id).
Tangkapan layar - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/11/2021). (Foto: rm.id).

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2021. Dari data tersebut, inflasi di Oktober tercatat 0,12 persen month to month (mtm).

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, untuk inflasi tahun kalender sebesar 0,93 persen, dan secara tahunan 1,66 persen pada Oktober 2021.

“Ini hasil pemantauan BPS di 90 kabupaten dan kota di Oktober. Angka inflasi tersebut terjadi karena kenaikan IHK dari 106,3 pada September 2021 menjadi 106,66 pada Oktober 2021,” kata Margo saat memberikan keterangan pers secara virtual, kemarin.

Berita Terkait : Sestama BPIP Ajak Kampus Bangun SDM Unggul

Dijelaskan Margo, komoditas yang menyumbangkan angka inflasi, antara lain cabe merah dan minyak goreng masing-masing 0,05 persen.

Sedangkan dari kelompok transportasi mengalami inflasi 0,04 persen, karena adanya kenaikan tarif angkutan udara.

Margo mengatakan, berdasarkan kabupaten serta kota yang dilakukan pemantauan, terdapat 68 kota yang mengalami inflasi tertinggi dan 22 kota mengalami deflasi.

Berita Terkait : Kepala BPIP: Desa Aktor Pembangunan

Dari 68 kota yang mengalami inflasi, tertinggi terjadi di Sampit dengan inflasi 2,06 persen. Sedangkan inflasi terendah di Sumenep dan Banyuwangi sebesar 0,02 persen.

Sementara, dari 22 kota yang mengalami deflasi, tertinggi terjadi di Kendari dengan deflasi -0,70 persen. Deflasi terendah terjadi di Bengkulu -0,02 persen.

BPS juga mencatat adanya kenaikan harga beras di penggilingan. Pada Oktober 2021, harga beras Rp 9.173 per kilogram (kg). Jumlah itu naik 0,31 persen secara bulanan dibanding September 2021.

Berita Terkait : Inflasi AS Rendah, Rupiah Rontok Lagi

“Meski begitu, kalau kami bandingkan pada Oktober tahun lalu, turun 4,54 persen,” jelas Margo.

Menurutnya, harga beras sejak tingkat pengolahan rata-rata memang terjadi kenaikan pada Oktober lalu. Seperti gabah petani atau Gabah Kering Lanen (GKP) yang naik 1,32 persen secara bulanan dibanding September 2021.

Diikuti oleh harga beras di penggilingan yang juga melonjak 0,31 persen, dan harga beras di tingkat grosir yang naik 0,15 persen. [NOV]