Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
%
Ganjar & Mahfud
Waktu |

Bangku Panjang

Sabtu, 6 Juli 2019 09:06 WIB
Ngopi - Bangku Panjang
Catatan :
AULIA DARWIS

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada yang sedikit berbeda dengan pengunjung rumah sakit rujukan nasional BPJS ini. Sebelumnya, saat Ramadan, pengunjung tak terlalu banyak. Mungkin banyak yang sehat saat puasa. Tapi beberapa pekan setelah Lebaran, pasien sepertinya tambah banyak.

Memang sejak awal puasa, saya harus bolak-balik rumah sakit militer ini. Ngantar orang tua berobat. Ada tumor di kandung kemih dan harus diangkat. Kebetulan beliau eks PNS sehingga dapat layanan BPJS. Sudah dua kali dioperasi, tetap harus ditangani serius. Rabu pagi itu antrean panjang.

Baca juga : Lagu Lama

Saya tiba pukul jelang pukul 9 pagi. Kesiangan, alamat dapat nomor urut banyak ini. Setelah mendaftar, saya harus menunggu beberapa lama sebelum nama dipanggil untuk mendapat nomor antrean. Tertera nomor 68. Mmh, bisa sampai sore dan telat nih ke kantor, khawatir saya.

Saya lihat beberapa deret bangku di dalam unit bedah sudah penuh terisi. Di bagian luar masih ada bangku kosong. Yang menjadi favorit saya, bangku panjang dari kayu. Masih kosong. Ini bisa buat tiduran. Maklum, semalaman kurang tidur karena begadang di kantor. Tentu tidak bisa tidur pulas. Karena telinga harus siaga mendengar nama dan nomor urut dipanggil lewat pelantang suara.

Baca juga : Bagi-Bagi Kekuasaan

Begitu lama menunggu, tidak ada keluh kesah. Sudah setahun lebih saya jalani aktivitas seperti ini. Karena memang prosedurnya begitu. Tentu berbeda dengan layanan rumah sakit swasta. Layanan serba cepat. Antrean paling banyak cuma lima orang. Tapi biaya menguras kantong. Konsultasi, uji laboratorium, obat itu tidak gratis. Berbeda kalau kita menggunakan BPJS.

Dari bangku panjang itu, saya bisa melihat lalu lalang orang. Ini jadi hiburan saya. Dokter-dokter gagah berbadan tegap, berbaju militer, berjalan cepat. Menyandang pangkat melati di pundak. Profesi yang hebat. Sudah dokter, tentara juga.

Baca juga : Bala Bantuan Dari Langit

Saya senang dapat konsultasi dengan dokter ini. Lebih ramah. Suka memberi penjelasan terang benderang dan sabar ke orang tua yang sudah berkurang pendengarannya. Saya juga salut dengan rumah sakit ini. Tak hanya mengurusi para prajurit yang sakit, tapi juga masyarakat umum dilayani dengan layanan terbaik.

Ketika no 68 dipanggil, waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Bergegas saya menggandeng orang tua masuk ke ruang dokter. Mmh, dokternya sudah berganti. Tidak lagi dokter yang dulu. Usianya masih muda, ganteng-ganteng. Nanya soal keluhan sehabis operasi kemarin. Lalu diberi catatan bahwa orang tua harus dilakukan scan lagi buat mengetahui perkembangan tumor. Saya harus balik lagi Senin depan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.