Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
SISWANTO
Sebelumnya
Biasanya kalau pulang kampung, Bu Sriyah habiskan waktu cukup lama. Bisa 2 minggu. Bahkan kalau mudik lebaran, dia bisa 1 bulan lebih di kampung. Kumpul bareng anak-anak, cucu hingga keluarga besarnya. Silaturahmi plus jalan-jalan.
Mudik singkatnya kemarin, ternyata terkait Pilkades (pemilihan kepala desa). Tanggal 17 Desember itu, Kabupaten Tegal menggelar Pilkades serentak gelombang ke dua. Kampung Bu Sriyah, Desa Dawuhan, Kecamatan Talang, masuk dalam Pilkades serentak gelombang kedua.
Baca juga : Hemas Bikin Malu Orang Yogya
Bu Sriyah mudik singkat itu, untuk salurkan hak politiknya. Maklum, sampai sekarang, KTP-nya masih alamat di kampung. Jadi dia masih tercatat sebagai pemilih di sana. Ternyata bukan kali ini saja Bu Sriyah libur berdagang, demi urusan politik. Bulan Juli 2018, dia juga pulang kampung. Saat itu, ada Pilkada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Tegal. Mudiknya juga sebentar. Sore pulang, besok pagi nyoblos, malamnya sudah sampai Jakarta.
Bagi saya, sikap yang ditunjukan Bu Sriyah ini luar biasa. Libur jualan, cuma buat nyoblos. Padahal, untuk gunakan hak politiknya, dia harus ambil dari simpanan hasil jualannya. Buat beli tiket kereta pulang-pergi. Dan selama saya kenal, Bu Sriyah bukan fanatik politik. Nggak pernah saya dengar dia berdebat soal politik. Apalagi sampai sibuk nyinyir di medsos dan posting hoaks.
Baca juga : Biaya Politik Makin Tinggi
Saya jadi membandingkan dengan beberapa teman saya. Khususnya dalam kesadaran menggunakan hak politiknya. Jangankan korbankan waktu dan duit buat nyoblos. Ngantri berlama-lama di TPS aja, malas. Penetapan hari libur untuk setiap Pilkada dan Pemilu, dimaknai lain. Hari libur, benar-benar dimanfaatkan untuk liburan. Pergi ke mall atau jalan-jalan ke tempat wisata. Bukan untuk nyoblos.
Kalau saja mayoritas orang seperti Bu Sriyah. Tentu KPU nggak perlu gelisah soal angka partisipasi pemilih yang cukup mengkhawatirkan. Pada 2014 lalu, partisipasi pemilih hanya mencapai 75 persen untuk pemilu legislatif. Sedangkan Pilpres lebih memprihatinkan lagi. Hanya mencapai 70 persen saja. Sementara Pemilu 2019 ini, KPU cuma berani target angka partisipasi pemilih mencapai 77,5 persen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.