Dark/Light Mode

Belajar Dari Kiai Puntadewa

Minggu, 25 April 2021 06:15 WIB
Ngopi - Belajar Dari Kiai Puntadewa
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Ini Ramadan kedua bareng istri tercinta. Ramadan kedua yang juga berlangsung di tengah pandemi Covid-19. Tahun lalu, istri tengah hamil anak pertama. Puasa kali ini, sudah ditemani anak laki-laki gagah yang tengah memasuki usia enam bulan. Bocah lagi doyan merangkak. Apa saja diraihnya untuk dimakan.

Jika Puasa tahun lalu situasinya amat tenang, karena masih awal-awal pagebluk Corona, tahun ini sedikit berbeda. Sudah mulai ramai. Bahkan cenderung normal.

Berita Terkait : Ayo Baca Kamus

Selain juga karena sudah pindah domisili. Tahun lalu masih tinggal di Ciputat, tak jauh dari Masjid UIN Syarif Hidayatullah. Masjid sepi mirip kuburan. Tak ada tarawih berjamaah. Juga meniadakan shalat Idul Fitri. Kampus tutup, pedagang libur. Jalanan sepi bisa untuk main sepak bola.

Tahun ini, sudah menetap di sebuah Kecamatan di Depok, Jawa Barat. Masjid ramai betul. Tarawih berjamaah full. Hampir tak ada jaga jarak dan masker. Setiap lima meter, pedagang takjil buka tiap sore jelang buka puasa. Yang antre mengular. Seakan, Corona sudah musnah dari daerah ini.

Berita Terkait : Ternak Cupang Di Bulan Puasa

Untuk menghormati mahluk Corona yang mirip ajian Candabirawa-nya Prabu Salya, yang ia kerahkan di arena Kurusetra saat Bharatayuda Joyobinagun, saya tetap berusaha memakai masker dan berusaha jaga jarak.

Sebab, yang dapat mengalahkan ajian Candabirawa berbentuk butha kecil yang jika dibunuh membelah diri semakin banyak, hanyalah Pandawa tertua, Prabu Puntadewa (Yudhistira). Kiai Puntadewa, dikenal sebagai ksatria “berdarah putih”, yang sipritualitasnya paling tinggi di antara Pandawa lainnya, yang lemah lembut, pembawannya hening dan tenang, tawadhu, dan ikhlas.

Berita Terkait : Emangnya Udah Normal Ya..

Di depan Prabu Salya, kakeknya, ia memang melawan, tapi dengan penuh penghormatan. Senjata Cakra Baskara pemberian Prabu Ndworowati, Kresna, dilesatkan tanpa semangat. Pun pusaka tersebut, dihadapkannya ke bawah. Bukan ke lawan. Ajaibnya, pusaka melesat hebat ke dada Prabu Salya. Milyaran butha bajang Candabirawa pun musnah seketika.

Menghadapi Pandemi ini, kita bisa meniru Kiai Puntadewa. Masing-masing kita punya darah putih dalam arti yang sebenarnya. Kapan-kapan cari informasi kegunaan darah putih dalam tubuh kita. Juga darah putih dalam arti kiasan. Apalagi ini Ramadan, bulan di mana sipritualitas insan ditempa. Jangan takut berlebihan, tetap ihtiar dengan tenang, menghormati virus ciptaan Tuhan, yang Insyaallah segera musnah ini. Amin. [Faqih Mubarok/Wartawan Rakyat Merdeka]