Dark/Light Mode

Sedih Tapi Nggak Bisa Nangis

Senin, 5 April 2021 06:50 WIB
Ngopi - Sedih Tapi Nggak Bisa Nangis
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Sedih, tapi nggak bisa nangis. Bahkan, setitik air mata pun nggak bisa jatuh. Kira-kira, begitulah perasaan saya waktu ditinggal mati si Unyil, anjing peliharaan saya, Minggu (21/3). Sudah 14 tahun si Unyil membuat rumah keluarga saya jadi lebih ramai dan aman.

Kalau dibilang baper, ya jelas. Gimana nggak, si Unyil mati di telapak tangan saya. Napas terakhir dihembuskan ke kulit saya. Baru kali itu saya benar-benar melihat kepergian mahkluk hidup. Waktu Bapak saya meninggal, 16 tahun lalu, saya nggak sempat lihat langsung beliau menghembuskan napas terakhir. Karena, Bapak dirawat di ICU. Sedangkan saya harus menjaga nenek di rumah.

Berita Terkait : Hobi Bawa Untung

Balik lagi ke si Unyil. Sejak pertama kali datang ke rumah, kami sudah menganggapnya spesial. Kespesialan itu ditunjukin lagi di saat-saat terakhir dia mau pergi. Bahkan, bikin kami sekeluarga menganggapnya seperti saudara kami. Bukan lagi sahabat, apalagi peliharaan.

Jadi, pagi hari itu, si Unyil memang sudah kelihatan berbeda. Nggak mau makan, nggak mau main, dan nggak bisa beranjak dari tempatnya berdiam. Karena sudah beberapa kali begitu, kami biasa saja. Yakin, besok atau lusa bakal ceria lagi.

Berita Terkait : Lucunya Piala Menpora

Malamnya, saat kami pulang, kondisinya masih sama. Masih terdiam di teras rumah. Dekat dengan pintu samping. Lalu, kami kasih makan seperti biasa. Ternyata, masih didiamkan. Nggak dimakan. Karena masih berpikiran sama, akhirnya kami masuk ke rumah.

Tapi, tiba-tiba si Unyil bersuara. Seperti memanggil. Pelan. Tak seperti biasanya. Cempreng, melengking. Kami keluar lagi. Di situ, saya lihat dia makin lemas. Seperti sulit bernapas. Lama-lama, napasnya makin pendek.

Berita Terkait : Sibuk Mainin Receh

Saya pegang kepalanya, seperti nggak ada tenaga. Begitu juga ketika saya pegang kaki depan dan belakangnya. Tak ada perlawanan. Tapi, saat namanya dipanggil, ekornya masih merespons. Bergoyang. Ternyata, itulah respons terakhirnya.

Saya angkat lagi kepalanya, napasnya semakin berat. Hingga akhirnya, menghembuskan napasnya yang terakhir. Sekitar 10 menit setelah kami sampai di rumah. Dia menunggu kami datang sebelum pergi. Sedih. Tapi nggak bisa nangis. [Paul Yoanda/Wartawan Rakyat Merdeka]