Dark/Light Mode

Khutbah Pakai Helm

Sabtu, 5 Juni 2021 06:17 WIB
Ngopi - Khutbah Pakai Helm
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Kisah lucu sekaligus "memalukan" ini dialami salah satu tetangga saya. Sebut saja namanya Ustad Wijaya. Seorang guru ngaji sekaligus pendakwah di wilayah Bojongsari, Depok, Jawa Barat.

Peristiwa terjadi sekitar 3 bulan lalu. Saat itu, Ustad Wijaya kebetulan mendapat undangan untuk mengisi Khutbah Jumat di wilayah Tomang, Jakarta Barat. 

Menjadi khatib Shalat Jumat merupakan rutinitasnya setiap pekan. Namun, karena lokasinya lumayan jauh, Ustad Wijaya harus berangkat lebih pagi. Sekitar pukul 10.00 WIB, ia sudah bersiap-siap berangkat dari rumahnya di kawasan Pondok Petir, Bojongsari, Depok. Dengan asumsi pukul 11.15 WIB sudah sampai di salah satu masjid di Tomang. 

Berita Terkait : Gagal Naik Puncak Gunung Slamet

Tidak seperti biasanya, hari itu kondisi lalu lintas sangat macet. Kendaraan sulit bergerak. Beruntung ia naik sepeda motor sehingga bisa leluasa mencari jalan pintas. Dengan penuh perjuangan yang melelahkan, akhirnya ustad yang juga salah satu pengasuh pondok pesantren di wilayah Ciseeng, Jawa Barat, ini bisa sampai masjid pukul 11.45 WIB.

Beberapa pengurus takmir masjid sudah menunggu. Usai turun dari motornya, salah seorang takmir langsung memintanya segera langsung naik mimbar. Karena Shalat Jumat akan segera dimulai. Apalagi, masjid telah penuh dengan para jemaah.

Kebetulan Ustad Wijaya sudah wudlu dari rumah dan belum batal. Sehingga langsung berjalan terburu-buru naik ke atas mimbar tanpa melepas helmnya terlebih dahulu. Beberapa jemaah yang melihat keganjilan itu tersenyum tipis. Tapi, tidak berani mengingatkan khatib karena posisi sudah di atas mimbar.

Berita Terkait : Mau Liburan Masih Takut

Ustad Wijaya lantas mengucapkan salam. Setelah salam, dia lantas duduk sambil mendengar azan. Saat duduk, tiba-tiba salah satu jemaah paling depan memberikan isyarat dengan mulut. "Ssuutt," tegur sang jemaah.

Seketika sorot mata Ustaz Wijaya diarahkan ke jemaah tersebut. Selanjutnya, jemaah tersebut memberikan isyarat tangan yang mengarah ke kepala. Ia belum paham. Setelah dua kali isyarat, ustad baru paham. "Astagfirullahhal adzim," gumam Ustad Wijaya dengan pelan sambil melepas helm dan langsung meletakanya di dalam kolong mimbar.

Dia bingung karena rambutnya terurai terkena angin. Ustad Wijaya lantas berinisiatif meminjam peci jemaah yang mengingatkannya tadi. Aneh rasanya menjadi khatib, tapi tidak mengenakan peci. "Alhamdulillah ternyata masih ada jemaah yang mau meminjamkan pecinya," kata dia dengan mengucap syukur.

Berita Terkait : Bukber Di Kala Pandemi

Setelah mendapat pinjaman peci, akhirnya Ustad Wijaya bisa menyampaikan Khutbah Jumat dengan tuntas dan tidak ada kekurangan sedikit pun. Setelah Shalat Jumat, ia mengaku tidak habis pikir bagaimana jadinya bila tidak ada jamaah yang mengingatkanya. "Bisa-bisa seluruh jemaah yang hadir akan senyum-senyum sendiri melihat penampilan saya," kata dia mengenang sambil tertawa. [Ahmad Lathif Rosyidi/Wartawan Rakyat Merdeka].