Dewan Pers

Dark/Light Mode

MPR-Fakultas Teknik UI Jajaki Kerja Sama Pendidikan Dan Riset

Kamis, 23 Juni 2022 16:05 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah) menerima Dekan FT UI Prof Heri Hermansyah (kiri), di Jakarta, Kamis (23/6). (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah) menerima Dekan FT UI Prof Heri Hermansyah (kiri), di Jakarta, Kamis (23/6). (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - MPR dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) menjajaki kerja sama dalam bidang pendidikan, riset, dan berbagai pengembangan lainnya. Di bidang pendidikan, misalnya, FT UI memberikan kesempatan kepada para anggota MPR dan pegawai di lingkungan Setjen MPR untuk mengambil pendidikan magister, sekaligus membuka kesempatan kepada berbagai kalangan di MPR untuk mengambil program profesi insinyur.

Di bidang riset, MPR mendukung FT UI untuk tetap konsisten melakukan riset di bidang pengembangan kendaraan listrik. Mulai dari desain model kendaraan, sistem penggerak (motor listrik), sistem pendingin (air conditioning), hingga kepada komponen baterai listrik.

“Ini sebagai bentuk dukungan MPR agar kedaulatan bangsa di bidang otomotif tetap terjaga, sehingga kita tidak perlu bergantung kepada impor untuk memenuhi berbagai kebutuhan kendaraan listrik dari hulu hingga hilir," ujar Ketua MPR Bambang Soesatyo usai menerima Dekan FT UI Prof Heri Hermansyah, di Jakarta, Kamis (23/6). Turut hadir External and Government Relation Fakultas Teknik Universitas Indonesia Suparlan.

Berita Terkait : Pemerintah Dorong Penguatan Kerja Sama Ekonomi Regional

Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, para peneliti yang tergabung dalam Pusat Riset Kendaraan Mutakhir (Research Center for Advanced Vehicle/RCAVe) FT UI sejak 2014 mulai melakukan konversi kendaraan listrik perkotaan. Hasilnya pada 10 Juni 2022, UI telah menyerahkan secara simbolis bus listrik garapannya kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Bus listrik tersebut merupakan satu-satunya di Indonesia yang rancang bangun platform chassis-nya, sistem penggerak, sistem rem, sistem kendali, inverter, dashboard, dan sistem pendinginnya dirancang para ahli UI dan dibangun oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri.

"Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) Bus listrik tersebut saat ini adalah yang tertinggi di Indonesia untuk kelas bus berukuran besar, yaitu ukuran panjang 12 meter dan bobot maksimal 16 ton. Bus listrik tersebut rencananya akan dipakai untuk menunjang transportasi kegiatan KTT G-20 di Bali pada akhir tahun 2022 ini," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan, produksi baterai listrik saat ini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dalam mewujudkan Indonesia menjadi salah satu pemain utama dalam memproduksi kendaraan listrik. Mengingat baterai merupakan komponen kunci untuk kendaraan listrik dan berkontribusi sekitar 25-40 persen dari harga kendaraan listrik.

Berita Terkait : KPK Dan ACC MALADEWA Jajaki Kerja Sama Pemberantasan Korupsi

"Baterai listrik pada kendaraan listrik menggunakan baterai lithium ion dengan bahan aktif katoda, diantaranya melibatkan unsur litium, nikel, kobalt, mangan dan aluminium. Kita memang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah untuk nikel, kobalt, mangan dan aluminium. Namun kita tidak memiliki sumber daya alam mineral litium, sehingga harus didatangkan melalui impor," terang Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menambahkan, FT UI bisa berkontribusi melakukan riset membantu pemerintah Indonesia mengakali kebutuhan litium tersebut. Misalnya melalui penelitian recovery lithium dari recycle baterai bekas atau yang dikenal dengan urban mining. Melalui inovasi tersebut, diharapkan Indonesia dapat memiliki cadangan lithium yang cukup untuk mengembangkan baterai listrik meski tidak terdapat tambang lithium dari alam.

"Jika bisa memproduksi baterai listrik dari dalam negeri tanpa bergantung impor lithium, maka kendaraan listrik dalam negeri bisa bersaing di pasar internasional. Hadirnya Perpres Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik menjadi bukti keseriusan Presiden Joko Widodo mengembangkan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Diperkirakan permintaan mobil dan motor listrik di Indonesia masing-masing akan tembus mencapai 400 ribu unit dan 1,2 juta unit pada 2025 mendatang. Besarnya market tersebut harus dinikmati oleh industri otomotif dalam negeri, jangan hanya dinikmati oleh industri otomotif dari luar negeri," pungkas Bamsoet.■