Dewan Pers

Dark/Light Mode

MPR Dorong Pendidikan Seks Bagi Anak Untuk Cegah Kekerasan Seksual

Sabtu, 23 Juli 2022 22:46 WIB
Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat
Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat mendorong sistem pendidikan seks bagi anak harus segera diperbaiki, mengingat ancaman kekerasan seksual di lingkungan anak-anak terus meningkat.

"Sistem pendidikan kita harus segera diperbaiki dengan memberi pendidikan seksual terhadap anak sesuai usianya, sehingga anak-anak kita bisa terhindar dari tindak kekerasan seksual yang marak belakangan ini," Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/7).

Lestari yang biasa disapa Rerie mengatakan, prihatin dengan peristiwa meninggalnya seorang anak berusia 11 tahun, akibat depresi setelah dipaksa teman-temannya memperkosa seekor kucing.

Peristiwa itu, kata Srikandi NasDem tersebut, harus segera direspon dengan serius oleh para pemangku kepentingan di tingkat Pusat maupun daerah.

Arus deras informasi yang sangat terbuka di era digitalisasi saat ini, menurutnya, harus diimbangi dengan pemahaman yang mumpuni sejak dini agar setiap warga negara memiliki fondasi yang kuat terkait pentingnya akhlak yang baik, saling menghormati dan saling mengasihi antarmanusia. Termasuk pemahaman mengenai seksualitas.

Berita Terkait : Sahabat Ganjar Gelar Lomba TKJ Untuk Siswa SMK Se-Jabodetabek Di Jakarta

Pendidikan dini akhlak dan seksual, ujar Rerie, penting untuk fondasi berpikir ketika dewasa. Karena, rekaman terbaik memori manusia terjadi pada usia dini.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berharap Pemerintah mengambil langkah-langkah strategis untuk mencegah peristiwa serupa terulang kembali.

Ia juga mendorong para pengelola lembaga-lembaga pendidikan, baik lembaga pendidikan umum, maupun yang berbasis keagamaan, mempersiapkan tenaga pengajarnya dengan baik agar mampu memberi pemahaman kepada para peserta didik lewat pendidikan seks yang disesuaikan dengan usia para peserta didik.

Wakil rakyat dari Dapil Jawa Tengah II (Demak, Kudus, Jepara) itu berharap pemberian pendidikan seks yang tepat kepada para peserta didik dapat mencegah anak-anak menjadi korban tindak kekerasan seksual yang marak terjadi belakangan ini.

Selain itu, ujarnya dukungan dari orang tua dalam memberi pemahaman tentang seks terhadap anak-anaknya juga sangat diperlukan, agar anak-anak paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait alat reproduksi.

Berita Terkait : Perlu, Desain Perlindungan Anak dari Virus Intoleransi dan Radikalisme

Ia mengajak semua pihak untuk bergandeng tangan segera mengambil langkah yang tepat untuk mencegah peristiwa terulang kembali. Karena, anak-anak adalah masa depan bangsa.

“Ancaman tindak kekerasan seksual terhadap anak akan membuat kesehatan fisik dan mental anak terganggu yang bisa berujung pada suramnya masa depan bangsa ini,” pungkasnya.

Anak buah Surya  Paloh ini pun mengajak perguruan tinggi untuk aktif mengambil peran untuk mempersiapkan masyarakat sejak dini agar melek literasi digital terkait konten.

Karena dengan berkembangnya teknologi, setiap orang bebas menciptakan ragam konten melalui platform yang tersedia baik melalui video maupun media lainnya.

Peristiwa pembulian anak oleh anak dan disebarkan ke masyarakat lewat media sosial sehingga korban meninggal, ujarnya, adalah dampak dari tidak adanya pemahaman literasi terkait konten di dunia digital.

Berita Terkait : Ganja Untuk Kesehatan Masih Diharamkan Ya..!

Dampaknya, tegas dia, banyak konten jauh dari nilai-nilai kehidupan budaya, budi pekerti, moral, berbangsa dan cenderung destruktif dalam kehidupan sosial.

Menurutnya, penyiaran memiliki kemampuan untuk meneguhkan konfigurasi nasionalisme, kedaulatan, dan kewarganegaraan suatu bangsa lewat konten-konten yang mendidik.

Karena itu, tegasnya, ragam penyiaran yang diproduksi dalam berbagai konten mesti berlandaskan semangat untuk mengokohkan pilar Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Konten penyiaran, tegasnya, harus mampu menjadi acuan masyarakat dalam rangka menyaring informasi yang tersebar bebas lewat sosial media.■