Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Dino Patti Djalal Di Acara Muda Bersuara

Tahun 2024-2029 Masa Kritis Untuk Atasi Perubahan Iklim

Minggu, 21 Januari 2024 07:20 WIB
Pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal. (Foto: Muhammad Rusmadi/Rakyat Merdeka/RM.id)
Pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal. (Foto: Muhammad Rusmadi/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Generasi muda diharapkan memilih pemimpin yang peka terhadap perubahan lingkungan pada Pemilu 14 Februari 2024. Hal ini sangat penting mengingat Indonesia lima tahun ke depan akan menghadapi potensi ancaman yang dahsyat akibat perubahan iklim.

Ajakan tersebut dilontar­kan Pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal saat membuka kegiatan “Muda Ber­suara” yang dihelat FPCI Cli­mate Unit di M Bloc Live House, Jakarta, Sabtu (20/1/2024). Namun, Dino tengah berada di Zurich dan hanya mengirimkan video secara daring kepada para peserta.

Dino mengatakan, tahun ini merupakan tahun politik, se­luruh rakyat Indonesia akan menggunakan hak suaranya untuk memilih para pemimpin di lembaga eksekutif dan legislatif 2024-2029.

Baca juga : KAUMM Indonesia: Perubahan Tidak Dapat Dibendung

“Lima tahun ke depan ini lebih dari sekadar suatu peristiwa politik. Karena tahun 2024-2029 masa yang sangat kritis dalam usaha kita mengendalikan pe­rubahan iklim,” tegasnya.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini berharap, tahun 2030, Pemerintah mampu menurunkan gas emisi hingga 50 persen. Na­mun sayangnya, hal ini masih jauh. Sebab, target penurunan gas emisi nasional saja mencapai 33 persen untuk usaha sendiri dan 43 persen atas dukungan internasional.

“43 persen, bukan 50 persen. Sementara kalau kita ingin men­capai dunia Net Zero tahun 2050, ini masih belum menjadi target Pemerintah karena targetnya masih 2060. Kalau kita mau mencapai net zero 2050, maka emisi harus dipotong setengah, 50 persen,” jelasnya.

Baca juga : Prof Emil Salim: Butuh Total Football Generasi Muda Untuk Cegah Perubahan Iklim

Makanya, dia berpendapat lima tahun ke depan ini, dari segi upaya perubahan iklim adalah sangat kritis. Tidak hanya bagi Indonesia, tapi juga bagi umat manusia karena target net zero emission ini juga harus dilaku­kan oleh negara-negara lain di dunia.

Karena itulah, perubahan iklim adalah ancaman paling dahsyat sepanjang sejarah Indo­nesia modern dan juga menjadi ancaman yang paling tidak kelihatan.

Ancaman perubahan iklim ini, sambungnya, tentu saja berbeda dengan ancaman lain seperti Covid-19 yang dampaknya bisa dilihat dengan jelas. Atau ben­cana alam tsunami yang dapat langsung kita rasakan dan berbagai ancaman lainnya.

Baca juga : SoKlin Lantai Bekali Orang Tua Cara Bermain Sederhana Untuk Perkembangan Anak

“Ini memang tantangan unik bagi semua, bagaimana kita menghadapi secara efektif suatu ancaman yang tidak kelihatan tapi paling dahsyat,” ungkap­nya.

Dalam menghadapi ancaman dahsyat dari perubahan iklim ini, Dino berpesan tiga hal kepada generasi muda.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.