Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Administrator Kesehatan Ahli Muda pada Tim Kerja Kesehatan Balita dan Anak Pra Sekolah, Direktorat Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementerian Kesehatan RI, Rivani Noor mengungkapkan, angka stunting di Indonesia juga cenderung turun. Pada 2021, ujar Rivani, tercatat prevalensi stunting di Indonesia 24,4 persen dan pada 2022 prevalensi stunting 21,6 persen.
Dia berharap, target prevalensi stunting yang ditetapkan pemerintah pada tahun ini dapat tercapai. Menurut Rivani sejumlah upaya intervensi harus dilakukan untuk mencegah dan mengatasi stunting di masa sebelum kelahiran antara lain dengan skrining anemia, konsumsi tablet tambah darah bagi calon ibu.
Selain itu, tambah, Rivani, sejumlah asupan bergizi pada 1000 hari pertama usia bayi, seperti meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan keragaman makanan pengganti ASI, harus konsisten diberikan.
Baca juga : Natasha Wilona, Seru Kunjungi Penjara Alcatraz
Karena, jelas Rivani, stunting pada usia bayi 24 bulan akan mempengaruhi kemampuan kognitif anak saat usia 8 tahun, 9 tahun dan 11 tahun. Sehingga upaya memantau tumbuh kembang balita secara rutin, ujar dia, merupakan langkah yang penting.
Bila terdeteksi ada tumbuh kembang balita yang tidak sesuai dengan standar, jelas Rivani, harap segera dibawa ke tenaga kesehatan. Menurut dia, langkah strategis pencegahan terjadinya masalah gizi pada balita adalah dengan menjamin kesehatan ibu hamil, pemenuhan gizi balita, deteksi dini masalah gizi dan penatalaksanaan yang tepat bila terjadi masalah gizi.
Chief Financial Officer 1000 Days Fund, Velofa Theresia Sihombing mengungkapkan, upaya pencegahan stunting di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.
Baca juga : Menteri Teten Tegaskan Kehadiran UMKM Jadi Elemen Kunci Pengembangan Potensi Desa
Pemantauan kesehatan balita dengan menggunakan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) misalnya, menurut Velofa, semestinya bisa dimaksimalkan.
Karena, ujar dia, banyak informasi terkait pengetahuan tentang pemenuhan gizi balita, berbagai sumber pangan bergizi dan terpenting adalah kurva pertumbuhan balita sebagai kelengkapan catatan pemantauan kesehatan balita.
Namun, tambah Velofa, sangat disayangkan saat pemeriksaan kesehatan balita sejumlah ibu tidak membawa buku KIA, sehingga seringkali catatan kesehatan balita tidak lengkap.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya