Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pabrik Plasma Pertama Dibangun Di Indonesia
Semoga Impor Obat Berkurang
Rabu, 22 Mei 2024 07:10 WIB
Sebelumnya
Menteri Budi menjelaskan kenapa pabrik plasma ini sangat penting. Pengalaman Covid-19 lalu, ada obat yang namanya 'Gammaraas', yang sangat dibutuhkan penderita Covid, namun langka. Kalaupun ada, harganya bisa tembus 100 juta. Sementara untuk mendapatkannya, itu harus diimpor dari China lantaran obat tersebut berkategori IVIg, yakni, Imunoglobulin intravena.
"Obat itukan ada yang berbasis kimia, dan ada yang berbasis biologi. Dulu farmasi berbasis kimia itu 80-90 persen revenue, tapi sekarang sudah berbasis biologis lebih banyak," ujarnya.
Mantan Menteri BUMN ini mengatakan, sejatinya obat-obatan esensial berbasis biologis bahan bakunya bukan dari kimia, tapi darah. Nah semua ini, masuk esensial list WHO (Badan Kesehatan Dunia) sehingga wajib disediakan kaena banyak sekali kebutuhannya. Dari kebutuhan tersebut, yang paling banyak adalah Albumin, kemudian IVIg, lalu Faktor VIII dan Factor IX.
Baca juga : OJK Patok Industri BPR Tahan Banting
Padahal, kata Menteri Budi, Indonesia untuk urusan suplai darah berada di posisi nomor 4 dunia, mengingat darah itu sangat bergantung dari populasi manusianya. Namun lucunya, Indonesia nggak punya pabriknya.
"Karena businessman di Indonesia senangnya dagang. Ambil uang saja, ambil untung cepat, beli dari luar. Dia nggak mau susah-susah bangun pabrik di sini. Tetapi akibatnya, begitu ada pandemi, di lockdown, mati kita semua karena nggak bisa dapat obatnya. Harganya meroket nggak karu-karuan," ujarnya.
Pihaknya berinisiatif mengubah regulasi dengan mulai menginisiasi pembangunan pabrik untuk plasma ini. Sehingga dengan adanya pabrik ini, negara tidak terus-terusan impor obat-obatan esensial. Sejauh ini, sudah ada dua perusahaan asal Korea Selatan yang membangun pabrik plasma di Indonesia.
Baca juga : PDAM Berkinerja Baik Bakal Diganjar Insentif
Perusahaan tersebut yakni SK Plasma Corp dan GCBio Pharma. Adapun pabriknya di Kawasan Industri Karawang dan Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, yang nantinya akan memproduksi Albumin, IVIg, dan Factor VIII, dengan target produksi satu juta liter. "Itu dari kebituhan kita 30 persen. Jadi mudah-mudahan menteri yang sekarang bisa memulai lebih dulu yang sudah 77 tahun nggak dibikin," ungkapnya.
Menurut dia, pabrik dua perusahaan ini sudah ground breaking. Hanya saja, baru bisa resmi beroperasi pada tahun 2026. "Karena mereka menunggu sampai 2026, mereka akan impor dulu dari Indonesia plasmanya, dibikin di sana kemudian nanti 2026, sudah bisa dibikin di sini," tambahnya. KAL
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 8, edisi Rabu, 22 Mei 2024 dengan judul "Pabrik Plasma Pertama Dibangun Di Indonesia Semoga Impor Obat Berkurang"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya