Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ucapkan Selamat Hari Bhayangkara Ke-79
Anggota DPR Doakan Polri Selalu Ada Di Hati Rakyat
Rabu, 2 Juli 2025 07:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Frederik Kalalembang memberikan ucapan selamat Hari Bhayangkarake-79 untuk Polri. Dia mendoakan Polri senantiasa ada di hati rakyat serta tetap menjadi tiang penyangga keadilan dan ketertiban di negeri ini.
Frederik menyatakan, usia 79 tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam perjalanan panjang itu, Polri telah menghadapi berbagai tantangan. Dari gelombang kritik hingga pujian, dari badai kepercayaan hingga ujian internal.
Namun, satu hal yang tetap nyata, Polri selalu dibutuhkan dalam setiap denyut kehidupan masyarakat.
Baca juga : NasDem Nilai Putusan MK Tabrak Konstitusi
"Dalam situasi genting, masyarakat tetap mencari perlindungan kepada Polri," kata Frederik, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (1/7/2025).
Dia bilang, ulang tahun bukan sekadar seremoni, tapi cermin menatap kembali jejak yang telah dilalui, sekaligus menyusun ulang langkah ke depan. "Sudah sejauh mana Polri memberi rasa aman dan keadilan? Sudahkah kita menjaga marwah Bhayangkara sebagai pelayan rakyat, bukan sekadar aparat negara?" tanyanya.
Frederik mengajak Polri untuk kembali belajar dari tragedi Polres Solok Selatan pada 22 November 2024. Saat itu, terjadi peristiwa Kabag Ops AKP Dadang Iskandar menembak mati Kasat Reskrim AKP Ulil Ryanto Anshari yang dikenal tegas dalam penegakan hukum terhadap aktivitas tambang ilegal.
Baca juga : Menkop-Menaker Kolab Siapkan 2 Juta SDM Andal
Dalam pandangannya, tragedi ini bukan sekadar soal konflik personal. Peristiwa itu adalah alarm keras tentang pentingnya kepemimpinan efektif dan manajemen konflik di tubuh Polri. Ketika tugas dan kewenangan tidak terkoordinasi, dan ego sektoral lebih menonjol dari semangat korps, kehancuran bisa datang dari dalam.
Peristiwa tersebut merupakan cermin kegagalan kepemimpinan di tingkat satuan kerja. Seorang Kapolres harus memiliki kecakapan tidak hanya dalam bidang operasional, tetapi juga dalam membaca potensi konflik di jajarannya. Pemimpin tidak boleh lalai, apalagi abai, terhadap gesekan kecil yang bisa berujung pada tragedi.
"Tragedi Solok Selatan harus menjadi refleksi bersama, bagaimana kita mendidik, membina, dan mengawasi personel Polri, serta menanamkan nilai-nilai profesionalisme, loyalitas, dan etika. Sebab, kepercayaan publik tidak hanya dibangun oleh prestasi, tetapi juga bisa hancur oleh satu kejadian internal," ujarnya.
Baca juga : Satgas Siber, Senjata Lawan Kejahatan Digital
Dia melanjutkan, peristiwa besar lain yang tidak boleh dilupakan adalah kasus “Cicak vs Buaya”. Menurutnya, peristiwa ini menjadi catatan kelam dalam hubungan antar-lembaga penegak hukum.
Kasus “Cicak vs Buaya” mencuat pada 2009. Saat itu, terjadi ketegangan antara KPK dan Polri, setelah dua pimpinan KPK dijadikan tersangka oleh Bareskrim. Sebuah pernyataan dari pejabat Polri saat itu yang menyebut “KPK hanya cicak melawan buaya” menjadi simbol dari konflik terbuka antar lembaga hukum.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya