Dark/Light Mode

Bendera One Piece, Gen Z, dan Peran MPR Merawat Nasionalisme Kebangsaan

Kamis, 14 Agustus 2025 21:22 WIB
Gedung MPR RI. Foto: Istimewa
Gedung MPR RI. Foto: Istimewa

 Sebelumnya 
Memaknai sebagai Kreativitas

Menurut Pew Research Center, Generasi Z atau Gen Z adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok usia yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Identitas mereka dibentuk oleh interaksi intens dengan budaya lintas negara, mulai dari K-Pop, Marvel, hingga anime Jepang seperti One Piece. Sehingga karakter dan kebiasaan mereka turut dipengaruhi oleh budaya-budaya luar.

Ketua Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Muzani pun merespons santai perihal maraknya pengibaran bendera One Piece. Ia menganggapnya hal itu sebagai bentuk kreativitas.

"Saya kira itu ekspresi kreativitas, ekspresi inovasi, dan pasti hatinya adalah merah putih, semangatnya merah putih," kata Muzani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (3/8/2025).

Muzani meyakini bahwa seluruh rakyat Indonesia memiliki rasa syukur karena Indonesia akan memperingati HUT ke-80.

"Kami percaya bahwa seluruh rakyat Indonesia mencintai negeri ini, mencintai bangsa ini, dan mensyukuri atas kemerdekaan itu," ucap Sekretaris Dewan Pembina Partai Gerindra itu.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mengatakan, di atas semua kreativitas yang diimplementasikan dalam logo dan simbol, Bendera Merah Putih tetap harus yang paling tinggi.

Baca juga : Menhan: Jangan Kau Pajang Di Bawah Merah Putih Dong..

"Saya mengutip almarhum Gus Dur bahwa di atas segala bentuk kreativitas dalam ruang demokrasi kita, Bendera Merah Putih harus tetap yang paling tinggi," kata Eddy.

Bendera One Piece: Ancaman atau Sindiran?

Bagi sebagian orang, fenomena pengibaran bendera One Piece berdampingan dengan Merah Putih hanyalah ekspresi kreatif anak muda yang gemar budaya populer Jepang.

Namun bagi yang lain, tindakan itu dipandang melecehkan simbol negara yang sakral. Pertanyaannya, apakah ini sekadar sindiran simbolik, atau justru ancaman nyata terhadap rasa kebangsaan?

Jika kita melihat konteksnya, One Piece adalah serial manga dan anime yang lekat dengan narasi petualangan, kebebasan, dan loyalitas pada kru. Nilai-nilai itu, bagi sebagian Gen Z, menjadi identitas emosional yang tak kalah kuat dari simbol negara.

Mengibarkan benderanya bisa dimaknai sebagai bentuk kebanggaan terhadap komunitas atau fandom, bukan semata-mata politik.

Dalam kacamata ini, mungkin saja aksi itu dimaksudkan sebagai sindiran—bahwa loyalitas emosional anak muda kini tidak lagi hanya terikat pada negara, melainkan juga pada kultur global yang mereka konsumsi setiap hari.

Baca juga : Herman Khaeron: Nasionalisme Harus Ditanamkan Sejak Dini

Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) memahami bendera One Piece bagian dari berekspresi akan tetapi penggunaan bendera negara telah diatur tegas dalam perundang-undangan.

Ibas mendorong agar hari kemerdekaan tahun ini dijadikan momentum untuk menegakkan konstitusi, memperkuat cinta tanah air, dan menjaga persatuan Indonesia.

“Kita semua bertanggung jawab untuk menjaga kehormatan simbol negara, sekaligus tetap membuka ruang dialog yang sehat dan membangun. Mari rayakan HUT ke-80 Kemerdekaan RI dengan penuh semangat, tetap kritis, namun selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” kata Ibas dalam keterangannya, Selasa (5/8/2025).

Dia mengajak seluruh pihak, termasuk para muda-mudi bangsa, untuk menjadikan hari kemerdekaan sebagai momentum memperkuat cinta Tanah Air, menjaga persatuan, menjunjung simbol negara, serta tetap membuka ruang dialog yang sehat dan membangun.

“Kami memahami semangat kreativitas dan kecintaan terhadap budaya populer. Namun, kita perlu selalu mengingat bahwa Bendera Merah Putih adalah lambang persatuan dan kedaulatan bangsa Indonesia,” tuturnya.

Namun di sisi lain, tindakan itu tetap mengandung potensi ancaman simbolis. Merah Putih bukan sekadar kain berwarna dua, ia adalah representasi kedaulatan, pengorbanan, dan persatuan bangsa.

Menyandingkannya dengan simbol hiburan populer, meskipun tanpa niat merendahkan, tetap berisiko mengikis kesakralannya di mata publik.

Baca juga : Kementan Dorong Pertanian Modern Lewat Inovasi Mekanisasi

Di era digital, persepsi bisa terbentuk lebih cepat dari penjelasan. Yang awalnya dimaksudkan “iseng” bisa dengan mudah dibaca sebagai “tantangan” terhadap nilai-nilai nasional. Masalah sebenarnya terletak pada kesenjangan pemaknaan simbol antara generasi.

Bagi generasi pejuang dan generasi awal reformasi, bendera negara adalah harga mati. Bagi sebagian Gen Z, simbol negara harus dibaca ulang agar relevan dengan zaman mereka—dan di sinilah benturan terjadi.

Tanpa dialog lintas generasi, kita hanya akan terjebak dalam lingkaran saling menyalahkan. Maka, yang diperlukan bukan hanya hukuman atau pembatasan, tetapi edukasi publik yang mengajarkan makna simbol negara dalam bahasa yang dipahami generasi kini.

Nasionalisme tidak harus kaku, tetapi juga tidak boleh cair sampai kehilangan bentuk. Budaya global boleh hadir di ruang publik, tetapi tidak boleh menutupi atau menyamakan kedudukan dengan simbol kedaulatan bangsa.

Bendera One Piece mungkin tidak lahir untuk menjadi ancaman, tetapi jika ketidakpekaan simbol ini terus berulang, ia bisa menjadi tanda pergeseran yang lebih serius: hilangnya garis batas antara identitas nasional dan hiburan global.

Kita boleh menjadi warga dunia, tetapi jangan sampai lupa bahwa rumah kita bernama Indonesia—dan Merah Putih adalah pintu gerbangnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.