Dark/Light Mode

Anggota DPR Prihatin Dengan Hasil TKA Nasional

Kemendikdasmen Diminta Evaluasi Lagi Proses Belajar

Jumat, 26 Desember 2025 07:05 WIB
Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian. Foto: DOk. DPR RI
Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian. Foto: DOk. DPR RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Data capaian nilai Tes Kemampuan Akademik (TPA) nasional cukup memprihatinkan. DPR meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengevaluasi kembali proses belajar di sekolah-sekolah.

Nilai rerata nilai Bahasa Inggris nasional hanya mencapai 24,93 dari 3.509.688 siswa. Sementara, rerata nilai Matematika 36,10 dari 3.489.148 siswa, dan rerata nilai Bahasa Indonesia 55,38 dari 3.477.893 siswa.

Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengatakan, rendahnya nilai TKA Bahasa Inggris dan Matematika tidak bisa serta-merta dibebankan kepada siswa. Hasil tersebut mencerminkan persoalan mendasar dalam sistem pembelajaran nasional.

Baca juga : BLT Minimal Rp 8 Juta Buat Korban Bencana Sumatera

“Capaian TKA yang rendah justru menjadi alarm adanya masalah struktural. Mulai dari kualitas dan pemerataan guru hingga metode pembelajaran yang belum relevan dengan kebutuhan siswa. Ini bukan semata-mata kelemahan siswa,” tandasnya.

Ia menyoroti metode ajar yang masih kurang kontekstual dan minimnya penggunaan bahasa Inggris dalam keseharian belajar di sekolah. Kondisi ini berdampak langsung pada kemampuan akademik siswa.

Dia bilang, TKA seharusnya berfungsi sebagai instrumen untuk mengevaluasi dan membenahi kebijakan pendidikan dan memperbaiki proses belajar. TKA sejatinya bukan alat mengukur hasil akhir atau capaian siswa. “Kami mendorong Kemendikdasmen agar segera melakukan evaluasi kurikulum dan meningkatkan kualitas pembelajaran,” kata politikus Golkar ini.

Baca juga : Lokasi Huntap Harus Aman, Tidak Banjir Dan Jelas Hukum

Fokus kebijakan harus diarahkan pada penguatan kapasitas guru, perbaikan materi ajar, intervensi berbasis daerah dan mata pelajaran dengan capaian rendah. “Pendekatannya harus pada peningkatan kualitas pembelajaran, bukan menambah beban asesmen bagi siswa,” tegas legislator asal Kalimantan Timur (Kaltim) ini.

Selain itu, Hetifah menekankan pentingnya penguatan Bahasa Inggris sebagai keterampilan global yang fungsional. Khususnya, penekanan pada kemampuan komunikasi dan pemahaman konteks, tanpa mengesampingkan peran bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani menambahkan, capaian nilai Matematika dan Bahasa Inggris di jenjang SMA berada pada level yang mengkhawatirkan secara nasional. Hasil TKA 2025 tidak boleh dipandang sekadar sebagai angka statistik, tapi harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap proses pembelajaran nasional.

Baca juga : SBY Yakin, Presiden Sudah Kerja Maksimal

“Terutama terhadap tiga mata pelajaran yang diujikan, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika,” tegas Lalu Hadrian dalam keterangannya, Kamis (25/12/2025).

Lalu Hadrian menekankan, evaluasi tersebut harus dilakukan secara objektif dan menyeluruh, baik dari sisi tenaga pendidik maupun peserta didik. Bila kesalahan atau kelemahan ada pada guru, maka peningkatan kualitas guru harus benar-benar ditingkatkan.

“Sebaliknya, jika kekurangan ada pada siswa, maka peningkatan kualitas dan pendampingan terhadap siswa juga harus digalakkan,” ujar legislator asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.