Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Swedia Pesta Gol 5-1 ke Gawang Tunisia
- S3 Ilmu Hukum Universitas Borobudur Tawarkan Pendidikan Berkualitas Berstandar Internasional
- PLN EPI Dorong CBG dari Limbah Sawit untuk Kurangi Emisi dan LNG
- Khofifah Ajak Alumni FH Unair Buka Peluang Magang Bagi Mahasiswa
- Tampung 245.980 Murid Baru, Disdik DKI SPMB Objektif, Transparan dan Inklusif
Ketua Komisi XII DPR: Biodiesel dan Bioetanol Kunci Kemandirian Energi RI
Selasa, 7 April 2026 14:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya menegaskan, biodiesel dan bioetanol menjadi pilar penting dalam mewujudkan kemandirian energi nasional berbasis sumber daya domestik.
Menurut Bambang, implementasi program biodiesel di Indonesia menunjukkan progres signifikan. Saat ini, mandatori biodiesel telah mencapai B40 dan ditargetkan meningkat menjadi B50 pada Juli 2026.
Kebijakan ini dinilai efektif mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar.
“Keberhasilan program biodiesel menunjukkan Indonesia memiliki fondasi kuat dalam membangun kemandirian energi berbasis sumber daya domestik. Ini harus terus diperkuat dan dioptimalkan,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Baca juga : FPN: Posisi RI Di BoP Harus Berpijak Pada Kemandirian Diplomasi
Ia menjelaskan, sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki kapasitas produksi crude palm.oil (CPO) lebih dari 45 juta ton per tahun.
Kapasitas ini dinilai mampu menopang kebutuhan bahan baku biodiesel secara berkelanjutan, termasuk untuk peningkatan mandatori ke depan.
Selain biodiesel, Bambang juga menyoroti potensi besar pengembangan bioetanol sebagai substitusi bensin.
Indonesia memiliki sumber bahan baku melimpah seperti tebu, singkong, dan jagung yang dapat dioptimalkan melalui penguatan ekosistem industri bioenergi.
Baca juga : Transisi Kendaraan Listrik Jadi Kunci Selamatkan APBN Dari Krisis Energi
“Pengembangan bioetanol harus menjadi agenda strategis berikutnya. Dengan potensi bahan baku yang besar, Indonesia memiliki peluang mengurangi ketergantungan impor bensin secara bertahap,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan pengembangan bioenergi harus dilakukan secara terukur dan terintegrasi agar tidak mengganggu ketahanan pangan maupun kebutuhan industri lainnya.
“Pemerintah perlu memastikan keseimbangan antara kebutuhan energi, pangan, dan industri agar program bioenergi tidak menimbulkan tekanan terhadap harga pangan atau pasokan domestik,” tegas legislator dari daerah pemilihan Bangka Belitung tersebut.
Bambang menilai, dengan perencanaan yang tepat, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan biodiesel dan bioetanol tanpa mengorbankan sektor lain, melalui peningkatan produktivitas, optimalisasi lahan, serta pemanfaatan bahan baku alternatif yang tidak bersaing langsung dengan pangan.
Baca juga : PLN EPI Perkuat Koordinasi Pasokan Batubara untuk Keandalan Listrik
Ia juga mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dan regulasi pendukung, termasuk pemberian insentif investasi di sektor bioenergi untuk memperkuat ekosistem hilirisasi energi nasional.
“Dengan sinergi kebijakan yang tepat, biodiesel dan bioetanol tidak hanya menjadi solusi energi, tetapi juga penggerak ekonomi, pencipta lapangan kerja, serta penguat ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika global,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya