Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- IHSG Merah Di Awal Perdagangan, Turun Ke 5.984
- Kakorlantas Ungkap Tantangan Baru Lalu Lintas di Era Teknologi & Bonus Demografi
- Yulisman: Ekspor Listrik Hijau Harus Maksimalkan Nilai Tambah untuk RI
- Riset Doktor Ilmu Komunikasi: Algoritma Medsos Turut Tentukan Narasi IKN
- Persija Resmi Rekrut Pratama Arhan
Yulisman: Ekspor Listrik Hijau Harus Maksimalkan Nilai Tambah untuk RI
Rabu, 8 Juli 2026 12:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Yulisman, mengapresiasi langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia beserta jajarannya yang mengedepankan kepentingan nasional dalam proses negosiasi kerja sama ekspor listrik hijau antara Indonesia dan Singapura.
Menurut Yulisman, kehati-hatian pemerintah dalam menentukan skema kerja sama, termasuk terkait penetapan harga listrik, merupakan langkah yang tepat agar manfaat yang diperoleh Indonesia dapat optimal.
"Saya mengapresiasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beserta seluruh jajaran yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam proses negosiasi. Kerja sama ini harus memberikan manfaat yang seimbang bagi kedua negara, namun yang paling penting adalah mampu menghadirkan nilai tambah sebesar-besarnya bagi Indonesia," ujar Yulisman, Rabu (8/7/2026).
Baca juga : Bahlil: Ekspor Listrik Ke Singapura Harus Saling Menguntungkan
Legislator dari Daerah Pemilihan Riau II itu menilai kerja sama ekspor listrik hijau merupakan peluang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat energi bersih di kawasan ASEAN.
Namun, keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari besarnya ekspor listrik, melainkan juga dari kemampuannya mendorong investasi, pengembangan industri hijau, transfer teknologi, penguatan rantai pasok nasional, serta penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.
Yulisman mengatakan, hasil Leaders' Retreat Indonesia–Singapura pada 6 Juli 2026 menjadi momentum penting bagi percepatan kerja sama energi kedua negara.
Baca juga : Qodari: Tarif Listrik Harusnya Naik, Tapi Ditahan Demi Daya Beli
Penandatanganan nota kesepahaman proyek interkoneksi listrik lintas batas menandai dimulainya tahap implementasi dengan target pengembangan ekspor listrik rendah karbon hingga 3,4 gigawatt (GW) pada 2035.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya berperan sebagai pemasok energi bersih. Kerja sama tersebut harus menjadi katalis bagi tumbuhnya industri manufaktur energi bersih, pengembangan kawasan industri hijau, hilirisasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat.
Ia juga mendukung langkah pemerintah yang mengintegrasikan kerja sama ekspor listrik hijau dengan pengembangan kawasan industri berkelanjutan serta teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).
Baca juga : Mufti Anam: PLN Harus Segera Berikan Solusi Nyata
Menurutnya, sinergi tersebut akan memperkuat ekosistem transisi energi nasional sekaligus meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi sektor energi bersih.
"Saya optimistis, dengan negosiasi yang dilakukan secara cermat oleh Menteri ESDM beserta jajaran, Indonesia akan memperoleh skema kerja sama yang saling menguntungkan. Ekspor listrik hijau harus menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan energi nasional, mempercepat hilirisasi industri hijau, menarik investasi berkualitas, serta menjadikan Indonesia sebagai pemain utama energi bersih di kawasan ASEAN," tutup Yulisman.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya