Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sektor Informal Terdampak PSBB, DPR Usul Ada BLT bagi Masyarakat Miskin Mendadak
Selasa, 7 April 2020 22:12 WIB
Sebelumnya
"Nah, kalau ditujukan ke target yang salah kan bahaya. Yang miskin nggak dapat, yang mampu malah menerima. Ini yang harus diperhatikan pemerintah. Untuk itu, pemerintah harus ada tim yang bisa tahu mereka. Nah, Anggota DPR ini kan rata-rata tahu melalui tim-tim suksesnya siapa-siapa saja masyarakat kita yang terkena dampak itu. Si A pekerja harian apa, si B jualan apa, tahu semua. Jadi, salah satu poin penting mencari chanel yang bisa menjangkau mereka," katanya.
Berikutnya, kata Darmadai, adalah melakukan realokasi dan refocussing anggaran di kementerian dan lembaga. Sebab di anggaran di Kementerian Perdagangan (Kemendag), ternyata masih banyak program yag bisa dihemat. Kemendag dalam laporannya ke Komisi VI DPR sudah melakukan penghematan sebesar Rp 731 miliar dari Anggaran Belanja Tahun 2020 sebesar Rp 3,577 triliun. Namun dari telaah, Darmadi menemukan masih banyak anggaran yang bisa ditekan untuk bisa dihemat untuk penganggaran yang lebih besar buat penanganan Covid-19.
Baca juga : Baznas Gelar Cash For Work
"Kayak (kegiatan) pengembangan ekspor nasional, itu kan kegiatannya pameran-pameran diluar negeri dan sudah dibatalkan semua. Lah bagaimana mau pengembangan ekspor ke luar negeri sementara semua negara mengalamiu Covid-19. PDB (Produk Domestik Bruto) mines semua. Indonesia masih termasuk bagus. Ada juga di perdagangan luar negeri itu anggarannya nggak jelas. Mestinya masih bisa dikurangi lagi. Sama perundingan pernjanjian internasional sekitar Rp 181 miliar karena mau perundingan apalagi di luar negeri karena semua (negara) sudah Covid. Menurut saya, penghematan itu perkiraan saya bisa mencapai Rp 1,3 triluin,," katanya.
Dalam kesempatan tersebut dia mengingatkan juga pentingnya pengendalian harga pangan dan alat medis untuk pengendalian covid. Sayangnya, kata dia, sejumlah bahan pokok seperti gula danbawang putih masih mahal di lapangan. Untuk itu dia meminta agar dilakukan relaksasi impor untuk impor alat kesehatan dan pangan.
Baca juga : Tiket Hari Pertama Ludes, Pertamina Apresiasi Masyarakat Purwokerto
"Untuk impor alat-alat medis seperti APD saja itu masih susah walau dibebasin ternyata masih susah padahal tugas pemerintah sebeanarnya bebasin saja masuk ke dalam negeri, banjirin, kalau sudah diatas demain, harga pasti turun. Sekarang masker saja sudah diatas 400 ribu karena langka. Langka karena macam-macam. Di persetujuan (impor) tidak dipermudah sehingga barang langka. Kalau barang itu mudah masuk, semua orang bisa impor tapi yang terjadi malah susah, akhirnya demainnya besar. Akhirnya apa? Harganya melonjak naik, barangnya susah. Ini satu hal yang harus diperhatikan pemerintah," katanya. [KAL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya