Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Generasi Muda Jangan Hanya Jadi Penonton
Dr. EBY juga memberikan perhatian khusus pada keterlibatan generasi muda dalam agenda perubahan iklim. Menurutnya, generasi muda merupakan kelompok yang akan menghadapi dampak perubahan iklim dalam jangka panjang sehingga tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima kebijakan.
“Bagi generasi muda, perubahan iklim adalah isu yang akan mereka hadapi ke depan. Jangan sampai mereka hanya menjadi penonton,” kata Ibas.
Dia menilai generasi muda perlu diberikan ruang untuk terlibat dalam penyusunan kebijakan sekaligus didukung melalui program-program yang mampu melahirkan solusi baru.
Terlebih, Indonesia tengah berada dalam momentum bonus demografi. Potensi generasi muda tersebut, menurut lulusan S3 IPB University itu, harus diarahkan menjadi kekuatan dalam membangun inovasi dan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca juga : Emil Tetapkan Target 1 Dapil 1 Kursi Dewan
“Kalau tidak ada pemahaman dan keterlibatan anak-anak muda, kita tidak akan memiliki keberlanjutan dalam tata kelola pembangunan bangsa ini,” ujarnya.
Jangan Tambah Tumpang Tindih Regulasi
Wakil Ketua MPR juga mengingatkan agar RUU Perubahan Iklim tidak justru menciptakan persoalan baru berupa tumpang tindih regulasi.
Menurutnya, pembahasan harus secara kritis menentukan mana materi yang memang harus diatur dalam undang-undang, mana yang cukup diatur dalam peraturan pemerintah, dan mana yang sebenarnya sudah diatur dalam undang-undang lain.
Ia juga membuka kemungkinan untuk mengintegrasikan ketentuan yang telah ada apabila diperlukan, sehingga RUU yang disusun benar-benar memperkuat sistem yang sudah berjalan.
Baca juga : Ibas: BKMT Punya Banyak Pintu Di Parlemen
“Saya ingin menggali masukan, menelaah kritik, sekaligus mendengarkan saran dan solusinya untuk negara kita,” kata Ibas Yudhoyono.
Ia menekankan bahwa forum tersebut bukan dimaksudkan untuk menghasilkan rumusan yang sudah final. Sebaliknya, sarasehan menjadi ruang untuk menguji gagasan dan mendengarkan berbagai perspektif sebelum pembahasan lebih lanjut dalam proses legislasi.
Indonesia Harus Menjadi Pemain
Dalam pandangannya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pihak yang menerima dampak perubahan iklim. Indonesia harus memiliki kapasitas untuk menjadi pemain dan pencipta solusi.
“Kita tidak hanya ingin mengikuti apa yang dilakukan dunia. Kita ingin membangun model Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan kita,” ujarnya.
Baca juga : Ibas: Muktamar Ke-35, NU Terus Perkuat Persatuan Dan Pengabdian
Karena itu, pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan harus ditempatkan sebagai dua agenda yang saling memperkuat. Transisi hijau juga harus dilakukan secara adil agar tidak membuat masyarakat tertentu menanggung beban yang lebih besar.
“Jangan sampai kita berbicara tentang ekonomi hijau dan keberlanjutan lingkungan, tetapi justru membuat para pekerja, petani, nelayan, UMKM, dan daerah tertentu menjadi korban,” tegas Edhie Baskoro.
Dia berharap pembahasan RUU Perubahan Iklim nantinya mampu menghasilkan kebijakan yang realistis, memiliki dukungan pembiayaan, dapat diukur dan diawasi, serta memberikan perlindungan nyata bagi masyarakat.
Pada akhirnya, menurut Ibas, keberhasilan kebijakan perubahan iklim tidak diukur dari seberapa banyak target dan aturan yang dibuat, tetapi dari seberapa jauh kebijakan tersebut mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
“Undang-undang yang baik bukan yang paling banyak pasalnya. Undang-undang yang baik adalah yang paling terasa manfaatnya bagi rakyat,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya