Dewan Pers

Dark/Light Mode

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat

Masih Banyak Yang Tak Percaya Corona

Sabtu, 21 Nopember 2020 07:20 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. (Foto: ist)
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hampir setahun dunia dilanda pandemi Corona (Covid­-19). Akan tetapi, masih banyak masyarakat di sini yang tidak percaya adanya virus asal Wuhan, China tersebut.

Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Lestari Moerdijat, dalam Focus Group Discussion (FGD) Rakyat Merdeka, kemarin.

FGD yang mengangkat judul “Pe­ran Parlemen Mengubah Perilaku Masyarakat” itu, dipandu Direktur Rakyat Merdeka, Kiki Iswara dan di tayangkan secara live di sejumlah jejaring sosial Rakyat Merdeka: Facebook, Instagram, dan kanal YouTube Rakyat Merdeka TV.

Kiki mengawali diskusi dengan mempertanyakan peran MPR dalam mengubah perilaku masyarakat di era kenormalan baru. Di mana 3M: memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak menjadi kunci penting dalam memutus mata rantai penularan Covid-19.

“Keampuhannya sama dengan vaksin bu,” kata Kiki, yang langsung ditimpali Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat. “Ya betul sekali,” sahutnya.

Berita Terkait : Bertemu Dubes Maroko, Ketua MPR Bahas Upaya Perdamaian Dunia

Rerie menerangkan, sejak awal pandemi, parlemen memberikan dukungan penuh kepada pemerintah. Salah satunya dalam hal regulasi.

“Parlemen langsung menyambut, dari Perppu (Peraturan Pengganti Undang-Undang) sudah menjadi Undang-Undang (Penanganan Corona),” sebutnya.

Selain itu, pihaknya juga ikut membantu sosialisasi bagaimana menghadapi Covid-19 di setiap kegiatan MPR. Sebab, jika bicara dalam bingkai kebangsaan, dampak virus ini bukan hanya ke masalah kesehatan. Tapi juga berdampak besar pada masalah sosial dan ekonomi.

Stabilitas keamanan hingga pertahanan juga bisa terganggu jika negara gagal melawan virus tersebut. Karena itu, anggota MPR diwajibkan memberi gambaran yang utuh mengenai konsep kebangsaan dan pandemi Covid-19 setiap turun ke daerah.

“Sekaligus menempatkan konsep kebangsaan dalam bingkai Pendemi ini,” terangnya.

Berita Terkait : Libur Panjang Kerek Angka Kasus Corona

Dia mengaku telah melakukan beberapa survei untuk mengetahui persepsi masyarakat terkait Covid-19. Hasilnya, hampir semua masyarakat paham bahwa bahaya pandemi ini bukan hanya berdampak pada kesehatan tetapi juga bahayanya bisa berujung pada stabilitas keamanan.

“Gangguan ini bisa berujung pada pertahanan negara,” ungkapnya.

Di sesi diskusi, Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka, Riki Handayani menanyakan, persepsi masyarakat terkait Covid-19 yang ditemukan anggota MPR setiap turun ke Dapil. “Masih ada nggak sih masyarakat yang tidak percaya pada Covid, lalu treatment-nya seperti apa?” tanya Riki.

“Wah, banyak sekali mas,” respons Rerie. Walaupun masih banyak yang tak percaya, ia tetap menerapkan protokol khusus setiap melakukan pertemuan.

Apalagi, Rerie punya penyakit penyerta (komorbid), yakni cancer. Kondisi ini membuat dirinya rawan jika terpapar Covid-19.

Berita Terkait : Makdir Klaim Mantan Sekretaris MA Nurhadi Dicatut Untuk Mengurus Perkara

“Saya ini cancer survival, yang sama dokter dalam tanda kutip belum lulus, belum lewat masa komorbid. Tapi kan bukan berarti saya harus diam,” ujarnya, yang mengaku hari-harinya kini lebih banyak melakukan pertemuan daring. 

Masih banyaknya masyarakat yang tidak percaya Covid-19, nilai Rerie merupakan tantangan tersendiri. “Bagaimana kita bisa menjelaskan dengan bahasa yang jauh lebih sederhana kepada publik,” imbuhnya.

Ketua Majelis Tinggi DPP Partai NasDem itu berharap, pers ikut mengambil peran untuk menyuarakan dalam bahasa yang menarik dan lebih mudah dimengerti. Saat ini, kerangka berpikir masyarakat terhadap Covid-19 beragam. Ada yang pasrah. Ada juga yang meyakini virus tersebut tidak mematikan. Pemahaman seperti ini, sebut Rerie, banyak ditemui di pelosok- pelosok Indonesia.

“Ya sudahlah, pokoknya aku percaya aja aku ini pasti dijaga kok, ini (virus) tidak akan mematikan, titik,” ucapnya, mencontohkan sebagian persepsi publik. [SAR]