Dewan Pers

Dark/Light Mode

HNW Minta Ormas Islam Lanjutkan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Selasa, 10 Agustus 2021 08:53 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. (Foto: Ist)
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengingatkan peran historis ulama, pesantren, dan ormas-ormas Islam dalam mewujudkan peradaban bangsa dan Indonesia merdeka.

Hal itu disampaikan Hidayat kepada keluarga besar, pimpinan, jajaran pengurus Ormas dan santri Pesantren Hidayatullah secara virtual saat Milad ke-50 Ormas dan Pesantren Hidayatullah, Minggu (8/8) lalu.

"Lahir dan merdekanya Indonesia tidak terlepas dari peranan bapak bangsa termasuk para ulama, pesantren, dan ormas-ormas Islam. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika ormas-ormas Islam dan pesantren, menjadi pelanjut kiprah mereka dalam memberikan sumbangsih terbaik bagi kemajuan peradaban Indonesia dan masyarakat dunia," ungkap Hidayat.

Anggota DPR yang akrab dipanggil HNW ini mengingatkan peran para ulama, pesantren, dan ormas Islam yang telah lama hadir berkiprah di nusantara. Seperti Pesantren Sidogiri yang berdiri sejak tahun 1745, begitu pula peran besar Syaikhona Cholil Bangkalan yang menjadi Guru bagi para kiai pendiri pesantren dan Ormas Islam dan menjadi Pahlawan Nasional dan Bapak Bangsa Indonesia.

Begitu halnya dengan KH. Hasyim Asy’ari yang dikemudian hari mendirikan Nahdlatul Ulama (1926), juga KH. Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah (1912). Maka wajarlah jika peran dan sejarah emas tersebut melahirkan situasi kondusif bagi penerimaan publik terhadap pesantren, dakwah, dan ormas yang beraqidahkan ahlussunnah wal jamaah.

Berita Terkait : Peran Politik Santri Pasca Kemerdekaan (Orde Baru) (1)

Termasuk juga memudahkan jalan bagi lahir dan diterimanya lembaga kepesantrenan dan Ormas Hidayatullah  di tengah masyarakat yang terus berkembang kiprahnya hingga berusia 50 tahun dan mempunyai lebih dari 600 cabang di seluruh Indonesia.

Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini  menyampaikan, tidak hanya ajaran ahlussunnah wal jamaah yang diterima luas oleh umat Islam di Indonesia. Melainkan juga sejarah perjuangan para ulama, pesantren, dan ormas-rmas Islam dalam mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Semua itu merupakan fakta yang diterima masyarakat Indonesia secara luas. Masyarakat semakin mengerti, bagaimana peranan para ulama, pesantren, dan ormas-ormas Islam, dalam mewujudkan Indonesia merdeka dan menghadirkan budaya Bangsa, seperti KH Hasyim Asy’ariy, KH. Wahid Hasyim, KH Mas Mansoer, Ki Bagus Hadikusumo, dan KH. Abdul Kahar Muzakkir sebagai founding fathers Republik Indonesia, Resolusi Jihad, hingga perjuangan para ulama, santri, dan Ormas-ormas Islam dalam menggagalkan pemberontakan PKI yang merongrong kedaulatan Negara yang sah; Republik Indonesia.

Semua torehan sejarah tersebut, kata HNW, menjadi bukti komitmen umat Islam merawat negara dan memajukan peradaban bangsa untuk disumbangsihkan bagi kemajuan peradaban dunia. Sebagaimana disepakati dalam Piagam Jakarta, atas prinsip yang moderat, kooperatif, demokratis, rahmatan lilalamin. Bukan sebagaimana yang distigmakan oleh sebagian kalangan Islamophobia yang hari ini berusaha menghapus sejarah peran ulama, pesantren, dan ormas Islam.

HNW menggarisbawahi kontribusi umat Islam di Indonesia bagi peradaban dunia, terutama dengan pembelaan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina dan penolakan terhadap penjajahan Israel. Sebagaimana termaktub dalam alinea I Piagam Jakarta. Tercatat bahwa KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah menegaskan dukungan bagi perjuangan mujahidin Palestina, baik dengan doa maupun dana, jauh sebelum Indonesia Merdeka, sebagaimana tercatat pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-13 di Menes, Pandeglang, Banten, pada 12-15 Juli 1938.

Berita Terkait : Ancaman Krisis Berlanjut, Anis Matta : Jangan Menyerah, Indonesia Terus Optimis

"Tentu saja Hidayatullah yang selama ini bergerak membantu Palestina merdeka dan menolak penjajahan Israel, juga merupakan kelanjutan dari sikap mensejarah tersebut," kata HNW.

Oleh karena itu, HNW selain ikut menyampaikan ucapan selamat atas 50 tahun kiprah dakwah dan tarbiyah Pesantren dan Organisasi Hidayatullah,  juga menyampaikan dukungan atas kiprah Hidayatullah untuk hadirnya terobosan-terobosan baru dalam bidang dakwah dan tarbiyah, yang selama ini sudah dijalankan oleh Hidayatullah untuk terwujudnya perbaikan peradaban di Indonesia maupun dunia.

Di antaranya karakter surat-surat Makiyyah di dalam Al-Quran yang dirujuk oleh Hidayatullah, yang salah satu ciri khasnya adalah mempergunakan ungkapan umum yang menandakan bahwa ajaran-ajaran Islam itu diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Tapi juga pentingnya melanjutkan dengan karakter surat-surat Madaniyyah yang membahas etika interaksi di antara warga bangsa yang majemuk atau plural seperti warga kota Madinah di awal Hijrahnya Rasulullah SAW.

"Karakter ajaran Al Qur’an tersebut sejatinya bukan untuk membagi-bagi dan memecah belah umat manusia. Melainkan justru untuk menjadi panduan berinteraksi yang ideal bagi seluruh umat manusia sesuai golongannya," terangnya.

Prinsip umum dalam berdakwah, bertarbiyah, berinteraksi, dan berperilaku dengan seluruh umat manusia, tegas HNW, adalah ihsan, hikmah, dan mauizhoh hasanah (nasihat yang baik), tapi juga mujadalah (berdebat) dengan yang lebih baik.

Berita Terkait : Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Wilayah Indonesia

Serta prinsip membela bangsa dan negara sebagaimana ada dalam Piagam Madinah serta Perjanjian Hudaibiyah, agar dakwah dan tarbiyah betul-betul menghadirkan perbaikan bahkan kontribusi kemenangan yang berperadaban, sebagaimana menjadi penutup surat-surat Madaniyyah, yaitu surat anNashr.

"Bahwa kesuksesan peradaban Islam tidak menghadirkan hal-hal yang distigmakan oleh kalangan Islamophobia seperti radikalisme, ekstremisme, terorisme, anti sosial, anti NKRI, dan lain-lain. Melainkan menjadi rahmatan lil alamin," tegasnya. [ONI]