Dewan Pers

Dark/Light Mode

Soal Pengharaman Wayang

Jangan Benturkan Agama Dan Budaya

Rabu, 16 Februari 2022 08:15 WIB
Ketua Umum Partai Rakyat, Arvindo Noviar. (Foto: Istimewa)
Ketua Umum Partai Rakyat, Arvindo Noviar. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Partai Rakyat, Arvindo Noviar geregetan dengan pengharaman wayang dari seorang penceramah yang membuat geger publik. Mempertentangkan wayang dengan ajaran Islam hanya mencederai sejarah.

“Budaya itu budidaya, tekhnologi, Ijtihad dan dibutuhkan untuk mengaplikasikan Islam. Artinya wayang adalah juga budaya yang bisa dijadikan metodologi dalam menyebarkan nilai-nilai Islam,” ujar Arvindo, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Aktivis Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini mengatakan, menilik sejarah tidak sedikit para pemuka Agama Islam yang menggunakan wayang untuk syiar.

Berita Terkait : Tantangan Konseptual (3)

Politisi muda ini menganalogikan, wayang itu tidak berbeda dengan budaya Timur Tengah seperti gamis, sorban, siwak, hingga wewangian gaharu yang juga digunakan masyarakat Indonesia.

Arvindo menyayangkan, penceramah yang mempertentangkan wayang. Semestinya, yang bersangkutan bisa membedakan mana syariat dan budaya. Dia bilang, menolak wayang itu tidak lebih dari ‘pemikiran yang mandeg’.

“Seandainya pemuka agama model begini hadir di awal-awal Islam masuk ke Indonesia, niscaya Islam tidak akan sebesar saat ini,” ujarnya.

Berita Terkait : Fintech Dan Perbankan Bagai Adik Dan Kakak

Sebelumnya, beredar potongan video penceramah, Ustaz Khalid Basalamah yang mengharamkan wayang dan menyarankan agar memusnahkannya. Belakangan, Sang Ustaz memberikan bantahan melalui akun YouTube resmi miliknya.

Bantahan tersebut, tertuang di dalam video berjudul ‘Tanggapan Terkait Potongan Video Tanya Jawab Mengenai Wayang? Khalid Basalamah (2022)’. Basalamah meminta maaf atas pernyataan yang dinilai menyinggung banyak pihak.

“Video ini kami buat untuk klarifikasi sekaligus permohonan maaf tentunya atas potongan pertanyaan yang diajukan oleh salah satu jemaah beberapa tahun lalu di Masjid Blok M di Jakarta dan sekaligus jawaban kami tentang masalah wayang,” ujar Basalamah, di jejaring YouTube, kemarin.

Berita Terkait : Tantangan Konseptual (2)

Basalamah mengatakan, saat itu dirinya ditanya jemaah soal wayang. Dia menyebut saat itu tidak menyatakan haram.

“Saya pada ada saat ditanyakan masalah wayang, saya mengatakan alangkah baiknya dan kami sarankan, kami sarankan agar menjadikan Islam sebagai tradisi, jangan menjadikan tradisi sebagai Islam. Dan tidak ada kata-kata saya di situ mengharamkan,” paparnya. [BSH]