Dewan Pers

Dark/Light Mode

Dinamika Pilpres 2024, Pengamat: KIB Masih Wait And See

Kamis, 4 Agustus 2022 11:43 WIB
Pengamat politik Ahmad Khoirul Umam/Ist
Pengamat politik Ahmad Khoirul Umam/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) masih belum sepenuhnya solid. KIB cenderung menunggu dan melihat perkembangan politik. 

Hal itu disampaikan oleh Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat dan pengamat politik Ahmad Khoirul Umam secara terpisah, Rabu (3/8).

"KIB masih wait and see politik yang terjadi ke depan," ujar Cecep.

Partai Golkar saat ini mengajukan nama Ketua Umum Airlangga Hartarto sebagai calon presiden pada Pilpres 2024

Berita Terkait : Tutup Nusantara Open 2022, Menpora: Terima Kasih Pak Prabowo

Meski demikian, Cecep menduga Golkar bisa saja berubah jelang pendaftaran capres-cawapres pada Pilpres 2024. Sementara, PAN menyebut semua ketum umum partai di KIB memiliki peluang sama sebagai capres.

Cecep menilai, wajar jika Golkar akan mengambil banyak porsi dalam penentuan calon yang akan diusung KIB dalam Pilpres 2024. Golkar anggota koalisi dengan suara tertinggi pada Pileg 2019.

"Mau tak mau, biasanya partai yang lebih banyak suara mengajukan calon," tambahnya.

Sementara, Khoirul Umam mengatakan, dinamika di internal Partai Golkar masih sangat kuat. Ini berpotensi mengancam masa depan kepemimpinan Ketua Umum Airlangga Hartarto, termasuk juga konstelasi politik di KIB.

Berita Terkait : Banyak Pelanggaran UU ITE, Peningkatan Literasi Digital Dinilai Mendesak

“Golkar partai politik yang dihuni oleh berbagai macam gerbong kekuatan politik yang tidak tunggal. Akibatnya, masing-masing kekuatan akan saling mengintai dan saling serang,” ujar Umam.

Dia mencontohkan pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo, bahwa Airlangga adalah capres pilihan dari Partai Golkar. Namun menurut Umam, ucapannya itu bisa mengunci Airlangga. 

“Statement itu untuk mengunci langkah Airlangga yang sebenarnya sedang menjalankan time buying strategy, menanti dinamika hubungan Istana dan PDIP dalam mencapreskan Ganjar Pranowo,” ungkap Umam. 

Bamsoet, kata dia, melihat kubu Airlangga dan KIB yang mulai menarasikan pencapresan dan pencawapresan dari internal partai. Jika pencapresan Airlangga dipaksakan, itu akan berdampak pada soliditas KIB.

Berita Terkait : Semoga Mahendra Cs Bisa Bawa Angin Segar

Sebab, lanjut Umam, partai papan tengah seperti PAN dan PPP cenderung tidak berani memainkan strategi politik spekulatif. Mereka cenderung akan berpihak pada koalisi yang memiliki kemungkinan menang lebih besar.

Dosen Universitas Paramadina Jakarta ini menambahkan, Jika tidak memiliki capres-cawapres yang kompetitif, partai-partai papan tengah itu tidak akan mendapatkan coat tail effect yang optimal. Dan berpotensi membuat mereka terdegradasi dari Parliamentary Threshold 4 persen yang menghantui mereka, khususnya PAN dan PPP. 

Sekarang tinggal bagaimana Airlangga mempergunakan kepemimpinannya menjaga stabilitas internal partainya. 

Di saat yang sama, Airlangga juga harus mematangkan strategi politiknya, agar tidak salah langkah. Jika salah langkah, ada kekuatan lain yang sudah menunggu.■