Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Sahabat Muda Airlangga Hartarto (SMART) meminta semua tokoh dan kader Golkar untuk obyektif menilai kepemimpinan Airlangga Hartarto selama menahkodai Golkar. Perolehan suara kedua terbanyak di parlemen pada Pemilu Legislatif 2019 adalah capaian terbaik yang bisa didapatkan di tengah goncangan internal yang sangat besar saat Airlangga mulai memimpin Golkar.
"Bayangkan saat sebelum Pileg kemarin dari survei Litbang Kompas saja misalnya Golkar itu akan melorot jadi partai tengah di bawah PKB, karena saat itu kita hadapi tsunami politik usai dualisme kepemimpinan, Ketum Pak Setnov saat itu tersangkut KPK. Belum lagi Pak Idrus Marham kena KPK juga. Benar-benar dihantam badai besar. Nah Pak Airlangga menghadapi badai besar ini dan betapa luar biasa karena akhirnya bisa jadi pemenang kedua kursi DPR. Jadi yang menilai kepemimpinan Airlangga gagal jelas sangat keliru dan tidak obyektif," kata Ketua Umum SMART Rudolfus Jack Paskalis dalam keterangan persnya, Jumat (13/9).
Baca juga : Golkar Sangat Kehilangan Habibie, Teknokrat Yang Paham Politik
Jack menjelaskan, Airlangga menahkodai Golkar bukan dalam situasi normal sehingga capaian pada Pileg 2019 dalam waktu relatif singkat adalah sebuah prestasi luar biasa. “Jadi melihatnya harus utuh. Justru kepemimpinan yang kuat itu teruji saat memimpin dalam kondisi badai besar dan kapal yang mungkin hampir karam bisa berlayar tegak sampai di tujuan. Itulah kepemimpinan Pak Airlangga. Dihantam dari banyak arah tetapi tetap bisa berdiri tegak," ungkap Jack.
Jack memahami betul bagaimana konsolidasi yang dilakukan Airlangga saat mulai memegang kendali di partai Golkar. "Beliau keliling seluruh Indonesia, membangkitkan lagi semangat para kader, pengurus DPD I dan II, bangun komunikasi dengan tokoh senior partai, terobosan program yang sangat diminati masyarakat, dan utamanya adalah kepemimpinan beliau yang kuat, itulah yang akhirnya membawa Golkar tetap bertahan kokoh," ucap dia.
Baca juga : Kang Emil Bakal Latih Milenial Desa seperti Atta Halilintar
Terkait adanya kritikan dari tokoh yang mengatasnamakan eksponen Ormas Tri Karya Golkar, terdiri dari SOKSI, Kosgoro 1957, dan MKGR yang menyebut kepemimpinan Airlangga gagal adalah salah alamat dan tidak berdasar serta terkesan pragmatis emosional. "Yang menyebut kepemimpinan Pak Airlangga gagal itu sebenarnya bukan cuma asal-asalan atau mengada-ada tetapi gagal paham. Mereka cenderung emosional karena pragmatis juga sehingga tidak obyektif," tukas Jack.
Lagipula, nama-nama seperti Zainal Bintang, Lawrence Siburian, Fatahillah Ramli, Cyprus Anthoni Tatali yang mengatasnamakan Eksponen Tri Karya, bicara atas nama pribadi dan bukan organisasi karena Kosgoro 1957 secara institusi berada di bawah komando Agung Laksono. "Dan Kosgoro 1957 sudah resmi mendukung Pak Airlangga. Demikian MKGR di bawah komando Pak Roem Kono sudah secara resmi pula mendukung. Jadi jika ada yang bicara lain ya itu angin lalu saja karena tidak punya dampak apa-apanya. Ibarat bicara menantang angin, yang tidak perlu dihiraukan," tegas Jack. [EDY]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya