Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
SBY Ke Jokowi
Nasehati Tak Menggurui, Mengkritik Tak Menyakiti
Kamis, 12 Desember 2019 07:18 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Setelah lama “menyepi”, SBY kembali tampil dan bicara mengenai masalah bangsa. Banyak nasehat yang ia sampaikan ke Presiden Jokowi. Namun, semuanya disampaikan dengan baik, tanpa menggurui. Dia juga menyampaikan kritik, tapi santun juga tidak menyakiti. SBY menyampaikan pidato refleksi pergantian tahun di acara Wisuda Taruna Akademi Demokrat Tahun 2019, di JCC, Senayan, Jakarta, tadi malam.
Ketum Demokrat ini terlihat lebih segar. Intonasi pidatonya stabil. Penuh semangat, tapi tidak menggebu-gebu. Tidak terlihat lagi wajah sendu, seperti saat pidato enam bulan pertama ditinggal Ibu Ani.
Presiden ke-6 RI itu tiba di Balai Pertemuan JCC pukul 19.33. Ia masuk lewat pintu sebelah kiri panggung. Langkahnya mantap menyusuri karpet biru. Kedatangan SBY disambut gemuruh tepuk tangan para kader dan sejumlah petinggi Demokrat.
SBY meresponsnya dengan lambaian tangan. Lalu, langsung naik ke atas panggung. Di mimbar, dia mengawali pidatonya dengan menyebut 2019 sebagai tahun yang penuh dinamika dan ujian.
“Tahun 2019 yang penuh dinamika dan juga ujian, akan kita tinggalkan. Sebentar lagi, kita akan memasuki tahun baru 2020. Tahun yang membawa harapan dan peluang, meskipun tak akan luput dari tantangan,” kata SBY.
Baca juga : Jokowi Bicara Tiga Terobosan Ini
Salah satu catatan buruk di 2019, kata SBY, adalah pemilu yang diwarnai politik identitas melebihi takarannya. Hingga menelan banyak korban jiwa. Namun demikian, 2019 juga punya hal baik. Meskipun terjadi benturan pasca-pemilu, tapi masih banyak yang memilih menjaga keutuhan bangsa. “Alhamdulillah, mimpi buruk itu tidak terjadi. Kita memilih persatuan, bukan perpecahan,” tuturnya.
Karenanya, menurut SBY, evaluasi menyeluruh tentang sistem, Undang-Undang dan penyelenggaraan pemilu perlu dilakukan. Terutama bagi pihak pemerintah, parlemen, dan penyelenggara pemilu. Agar pemilu di masa mendatang bisa berlangsung lebih baik. Yang sudah baik kita pertahankan, yang belum baik kita perbaiki. Itulah harapan Partai Demokrat. Saya yakin itu pula harapan rakyat kita,” tegas SBY, disambut tepuk tangan hadirin.
SBY juga meminta suasana permusuhan dan politik pecah-belah dihentikan. Hubungan yang bernuansa kawan dan lawan harus diganti dengan hubungan antarmitra. Rakyat menghormati negara dan pemimpinnya.
Begitu pun negara dan pemimpin harus sabar dan mengayomi rakyat dengan adil dan penuh rasa kasih sayang. “Bersatu kita teguh. Bersama kita lebih kuat. Together we are stronger. Inilah ajakan Partai Demokrat,” seru SBY, disambut riuh tepukan tangan hadirin.
Soal sikap politik Demokrat, SBY bilang, partainya berada di luar pemerintahan. Namun, ia tidak menyebut oposisi. Demokrat akan mendukung penuh keputusan dan kebijakan pemerintah yang tepat. Namun, Demokrat juga tetap mengkritisi kebijakan yang dianggap keliru.
Baca juga : Jokowi Pastikan Tak Terbitkan Perppu KPK
SBY kemudian merinci pandangannya soal kebijakan ekonomi dan kesejahteraan. SBY mengatakan, ekonomi di 2020 diperkirakan tidak baik. Ekonomi dunia akan mengalami resesi dan pertumbuhan yang melambat. Menyikapi kondisi itu, Indonesia tidak cukup hanya dengan berjaga-jaga. Sangat berbahaya jika pemerintah lalai dan bersikap “business as usual”. Apalagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang diperkirakan Bank Dunia, hanya di angka 4,9 persen.
“Kami yakin pemerintah memerlukan mitra yang berkata jujur dan apa adanya,” sebutnya. SBY pun memberikan beberapa nasehat kepada Jokowi. Yaitu dengan berkaca dari pengalamannya sebagai presiden dua periode, khususnya ketika menghadapi krisis ekonomi global pada 2008.
“Alhamdulillah kita selamat. Kita bisa mengurangi dampak krisis ekonomi global waktu itu,” paparnya.
Untuk menghadapi tantangan ekonomi global itu, SBY menyarankan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf fokus pada 5 isu. Pertama, menyangkut pertumbuhan ekonomi. Kedua, pengangguran dan lapangan kerja. Ketiga, daya beli dan perlindungan sosial untuk rakyat. Keempat, kebijakan fiskal termasuk utang negara. Kelima, rencana pemindahan dan pembangunan ibu kota baru.
Soal pertumbuhan ekonomi, SBY sepakat dengan Jokowi bahwa pertumbuhan 5 persen dalam kondisi global saat ini bukan hal buruk. Namun, SBY berharap agar pertumbuhan ekonomi tidak di bawah 6 persen. Sebab efeknya, lapangan pekerjaan baru sulit, penghasilan dan daya beli rakyat sulit ditingkatkan, angka kemiskinan menjadi tidak mudah untuk diturunkan.
Baca juga : Tak Diundang Ke Hari Santri, Menag Tak Sakit Hati
Agar pertumbuhan bisa menembus di atas 6 persen, SBY menawarkan dua solusi jangka pendek dan menengah. Pertama, meningkatkan investasi dunia usaha. Kedua, belanja pemerintah maupun konsumsi rumah tangga harus ditingkatkan.
SBY juga menyambut, Demokrat baik tekad Jokowi membawa Indonesia keluar dari jebakan penghasilan menengah (middle income trap) di 2045. “Insya Allah Indonesia bisa. Kita punya “success story”.
Dalam waktu 10 tahun, income per kapita kita naik 3 kali lipat lebih, dari 1.100 dolar AS menjadi 3.500 dolar AS,” sebutnya. Soal ibu kota baru, SBY menghargai inisiatif Jokowi. Di masa kepemimpinannya, rencana pemindahan ibu kota juga sempat digaungkan. Namun, kemudian dibatalkan karena pertimbangan anggaran dan amdal. Ia meminta Jokowi berhati-hati, sebab ada negara yang sukses dan gagal dalam memindahkan ibu kota.
“Memindahkan dan membangun ibu kota baru adalah sebuah mega pro yek. Tidak boleh meleset, harus sukses,” tutupnya. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya