Dark/Light Mode

Disuarakan Dalam Diskusi Di Partai Golkar

Bahlil: Kita Tak Menyerah Dengan Kebijakan Hilirisasi

Jumat, 9 Mei 2025 07:30 WIB
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia. (Foto: Instagram/bahlillahadalia)
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia. (Foto: Instagram/bahlillahadalia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia tak akan menyerah dengan kebijakan hilirisasi.

Hal itu disampaikan Bahlil dalam diskusi "Arah Kebijakan Geostrategis dan Geopolitik Indonesia" yang digelar Partai Golkar di DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Kamis, (8/5/2025).

Menteri ESDM ini menyatakan Indonesia tak bisa hanya bergantung terhadap konsensus global yang dinilai semakin rapuh dan tak konsisten.

Bahlil juga mengajak masyara­kat untuk melihat kekurangan dan kelebihan yang dimiliki Indonesia.

Baca juga : Indonesia Dan Jepang Sepakat Perkuat Kerja Sama Ekonomi

Geopolitik hari ini, sambung Bahlil, tidak sepenuhnya urusan dagang. Kita harus melihat po­sisi geostrategis kita, memahami kelebihan dan kekurangan kita, serta membaca kelemahan dunia.

"Semua negara berpikir untuk mengamankan kepentingan do­mestiknya," ujar mantan Ketua Umum HIPMI ini.

Bahlil menunjukkan contoh konkret, saat ini beberapa negara mulai mundur dari komitmen pengurangan emisi yang digagas dalam Paris Agreement. Ini men­jadi tamparan jika konsensus global tak dapat lagi menjadi pegangan.

"Kita negara dengan penduduk terbesar keempat dunia, dan 60 persen populasi ASEAN itu di Indonesia. Ekonomi kita ter­besar di kawasan dan masuk 16 besar dunia dalam G20," Bahlil mengingatkan.

Baca juga : Dedi Mulyadi: Kirim Siswa Ke Barak Tak Langgar HAM

Bahlil kemudian menyoroti kekayaan sumber daya alam Indonesia yang menjadi rebu­tan dunia dalam pengembangan industri hijau. Namun, Bahlil mengatakan rendahnya penetrasi pasar global dan keterbatasan teknologi saat ini menjadi tan­tangan besar.

"Kita pernah dijajah 360 ta­hun dan hanya diminta kirim barang mentah. Tahun 2019 kita hentikan ekspor nikel dan tetap melangkah walau Uni Eropa menggugat ke WTO. Kita tidak akan melakukan kesalahan kedua," tegas Bahlil.

Bahlil mengatakan kebijakan hilirisasi telah membuat Indonesia menjadi eksportir nikel terbesar di dunia. Menurutnya, hal itu men­jadi bukti jika dunia mulai mengakui peran strategis Indonesia dalam rantai pasok global.

"Cadangan nikel dunia 43 persen ada di Indonesia. Komponen industri hijau itu butuh nikel, kobalt,mangan, dan lithium. Kita punya semua kecuali lithium.Maka jangan anggap kami bang­sa bodoh lagi," ucapnya.

Baca juga : Ketua NasDem Sulsel Sering Ketemu Kaesang

Lebih lanjut, Bahlil menyoroti pentingnya memperkuat daya beli masyarakat dan memasti­kan distribusi pendapatan yang adil. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2025 masih sangat bergantung pada konsumsi domestik.

"Kalau mau amankan kepentingan nasional, maka harus ada keadilan sosial. Pendapatan per kapita kita harus bisa mencapai USD 9.000-10.000. Dan ini ti­dak bisa lepas dari keberhasilan hilirisasi," katanya.

Bahlil pun menyinggung jika banyak negara maju yang akan tidak nyaman dengan kebijakan hilirisasi Indonesia. Namun, dia memastikan tak akan menyerah untuk melanjutkan kebijakan hilirisasi.

"Jangan pernah berpikir negara maju akan membiarkan negara berkembang seperti Indonesia menjadi negara maju. Tapi kami tidak akan mundur. Hilirisasi harus menjadi bagian dari kesepakatan G20. Indonesia akan mengikuti, asal ada solusi konkret," tuturnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.