Dark/Light Mode

Gegara Pergantian Ketua DPC

Banteng Surabaya Lagi Sikut-sikutan

Kamis, 5 Juni 2025 07:20 WIB
Mantan Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Surabaya, Achmad Hidayat. (Foto: Instagram/achmad_hidayat_ah)
Mantan Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Surabaya, Achmad Hidayat. (Foto: Instagram/achmad_hidayat_ah)

RM.id  Rakyat Merdeka - Internal PDI Perjuangan Kota Surabaya kembali menghangat. Kader partai berlambang banteng ini lagi sikut-sikutan, dan saling kritik.

Mantan Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Surabaya, Achmad Hidayat secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Surabaya, Yordan M Batara Goa. Dia menilai, apa yang dilakukan Yordan menyimpang dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.

Menurut Achmad, sejak pem­bebastugasan Adi Sutarwijono dari posisi Ketua DPC, muncul banyak kegaduhan internal yang justru mencoreng nama partai. Dia menyinggung polemik in­ternal seperti isu “rahang babi” dan keterlambatan pembayaran gaji sekretariat.

“Gaji sekretariat seharusnya ditangani secara internal, tapi justru disebarluaskan ke pub­lik,” ungkap Achmad, Rabu (4/6/2025).

Baca juga : 2 Mantan Stafsus Menteri Diancam Pencekalan

Achmad juga mengkritik langkah Yordan yang memanggil kader untuk klarifikasi secara langsung di kantor partai, se­olah-olah menjadikan DPC sebagai kantor polisi. Dia menegaskan, berdasarkan AD/ART partai, hanya Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yang memiliki ke­wenangan membentuk Komite Etik dan Mahkamah Partai.

“Jangan sampai masalah pribadi kader digiring ke partai lalu di-framing. Itu bisa meng­hancurkan karier politik orang,” ujarnya.

Dia menilai, konsolidasi partai di bawah kepemimpinan Yordan tidak berjalan baik. Achmad mengaku memiliki bukti kuat berupa rekaman suara, video, dan dokumen yang menunjukkan pengurus DPC justru memojok­kan kader sendiri.

“Sebagai contoh, kasus Arif Wirawan, Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Tambaksari, yang dilaporkan ke polisi,” bebernya.

Baca juga : Bos BTN Patok Akuisisi Rampung Oktober 2025

Achmad mengaku mengantongi informasi lengkap tentang alur pelaporan tersebut. Termasuk, kata dia, siapa yang memberi perintah, siapa yang menerima, dan siapa yang mengarahkan laporan ke aparat.

“Ada pihak internal yang membuka aib kader di forum resmi dan bahkan mendorong proses kriminalisasi,” katanya.

Selain itu, Achmad mengung­kapkan adanya tekanan politik dari pihak eksekutif di Surabaya. Dia mengaku pernah diundang ke rumah salah satu pejabat dan diminta memberikan dukungan dalam agenda konferensi cabang (konfercab).

Saat menolak, Achmad mengaku diancam akan dibongkar persoalan pribadinya. Dia juga menyebut ada tiga pihak yang memiliki ambisi politik kuat dalam perebutan posisi strategis di tubuh PDIP Surabaya.

Baca juga : Kopdeskel Merah Putih Atasi Peran Tengkulak

“Ada yang ingin jadi Ketua DPC, inisial A. Ada yang mengincar kursi Ketua DPRD, ini­sial B. Lalu, ada yang berharap naik melalui PAW, namanya AK,” ungkap Achmad.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.