Dark/Light Mode

Kenalkan Partai Ummat

Amien 2020 Tak Segagah Dan Sesakti Amien 1998

Jumat, 2 Oktober 2020 05:02 WIB
Amien Rais saat mengumumkan Partai Ummat (kiri) dan Amien Rais saat memimpin reformasi 1998 (Foto: Istmewa)
Amien Rais saat mengumumkan Partai Ummat (kiri) dan Amien Rais saat memimpin reformasi 1998 (Foto: Istmewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah beberapa bulan bikin penasaran, Amien Rais akhirnya mengenalkan partai barunya ke publik, kemarin. Namanya, Partai Ummat. Apakah partai ini bisa melebihi kebesaran PAN yang pertama kali didirikannya? Atau justru akan mengecil? Atau ada mukjizat luar biasa yang bisa menggeser dominasi PDIP dan Golkar di papan atas? Kita lihat saja jadinya seperti apa. Yang pasti, ada yang mengingatkan, Amien 2020 tak segagah dan sesakti Amien tahun 1998, saat dia menjadi lokomotif reformasi menggulingkan Soeharto.

Berita Terkait : Amien Rais Luncurkan Partai Baru, PKS Ucapkan Selamat

Partai baru itu dikenalkan Amien dalam video berdurasi 2 menit 53 detik di kanal YouTube Amien Rais Official, sekitar pukul 12 siang. Videonya diberi judul, Mukaddimah Partai. Amien tampil dengan baju koko dan peci hitam. Ia duduk dengan latar bendera Merah Putih di sebelah kiri, dan lemari buku di sebelah kanan. Sendirian. Tanpa ditemani tokoh lain. Baik yang hadir secara fisik maupun virtual.
 
"Bismillahirrahmanirrahim. Mukaddimah Partai Ummat," ucap pendiri PAN ini, yang langsung disambar slide berlatar hitam dengan backsound dentuman. Di tengahnya tampak tulisan Partai Ummat dengan huruf tebal warna kuning. Tapi belum ada logo. Nama Partai Ummat ini juga di luar dugaan. Karena sebelumnya, Amien sempat dikabarkan bakal memberi nama partainya itu PAN Reformasi. 
 
Dalam video, Amien mengawali narasinya dengan dua perintah yang ada di dalam Al-Quran. Pertama, urainya, dengan mengangkat telunjuk kanan, "Melakukan al amru bil ma'ruf dan an-nahyu 'anil munkar," kata eks Ketua Umum PP Muhammadiyah itu. Maknanya, memerintahkan tegaknya kebajikan dan memberantas keburukan. 
 
Kedua, menjalankan al amru bil 'adli dan an-nahyu 'anidzulmi. Yakni menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman.
 
Ketua MPR ke-11 itu menerangkan, perintah pertama bergerak pada tataran personal, familial, dan komunal. Sedangkan perintah kedua akan bergerak pada tataran nasional atau yang berkaitan erat dengan masalah kekuasaan.
 
"Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa hanya negara yang mampu melakukan kezaliman kolosal. Tetapi, sebaliknya pula, hanya negara yang dapat menegakkan keadilan secara merata," terangnya.
 
Karena, kata Amien, dengan aparat yang lengkap dan kekuasaan yang besar, negara dapat melancarkan kezaliman politik, kezaliman ekonomi, kezaliman sosial, kezaliman hukum, bahkan kezaliman kemanusiaan. Namun, dengan kekuatan itu juga, negara mampu menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat. "Semua tergantung pada pemerintah yang sedang berkuasa, apakah sedang membela kepentingan rakyat dan umat atau sebaliknya sedang membela kepentingan konglomerat dan korporatokrat," ucapnya.
 
Untuk itu, menurut Amien, segolongan umat manusia harus berikhtiar secara sistematik lewat perjuangan politik dalam menegakkan keadilan sekaligus melawan kezaliman tersebut. "Partai Ummat insya Allah bertekad akan bekerja dan berjuang bersama anak bangsa lainnya melawan kezaliman dan menegakkan keadilan," janjinya.
 
"Akhirnya, iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin. Hanya kepada Allah kami menyembah dan hanya kepada-Nya pula kami memohon pertolongan. Allahu Akbar. Merdeka!" pekik Amien, menutup videonya itu.
 Selanjutnya