Dark/Light Mode

Demi Kebaikan Semua Pihak

Jadwal Debat Terakhir Sebaiknya Dimajukan Sebelum 13 April

Kamis, 14 Maret 2019 18:07 WIB
Paslon 01 Jokowi-Maruf (baju putih) dan paslon 02 Prabowo-Sandi (jas hitam) foto bareng Ketua KPU Arief Budiman, sesaat sebelum Debat Capres Jilid I di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (17/1). (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka)
Paslon 01 Jokowi-Maruf (baju putih) dan paslon 02 Prabowo-Sandi (jas hitam) foto bareng Ketua KPU Arief Budiman, sesaat sebelum Debat Capres Jilid I di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (17/1). (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia kini semakin matang menjadi negara demokrasi. Dalam waktu yg relatif cepat sejak awal reformasi politik dilakukan, 1998, arah demokratisasi kita makin jelas dan terlembagakan. Kita sudah mampu mengimplementasikan prosedur demokrasi yang benar. 

“Itu benar. Bila partisipasi dan kontestasi yang jadi rujukan, kita sudah sangat layak untuk disebut sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Amerika Serikat. Proses transformasi politik tersebut sekaligus menolak anggapan Indonesianis, yang meragukan suksesi kepemimpinan Indonesia dapat dilakukan secara gradual dan damai,” ujar Pengamat Politik Indria Samego dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/3). 

Baca juga : Jauh Dekat, Tarif LRT Dipatok Rp 12 Ribu

Dijelaskan, salah satu landmark dari proses transformasi politik itu adalah pilpres dan pilwapres (selanjutnya disebut pilpres) secara langsung. Di dalamnya, terkait pula prosesi yang sebelumnya tak pernah dilakukan di sini, yakni Debat Capres/Cawapres.

“Hasilnya, memang belum optimal. Namun jika debat tersebut dijadikan ukuran untuk memperkenalkan Capres dan Cawapres pada calon pemilihnya, tak dapat dipungkiri bahwa tujuan itu sudah tercapai,” kata Indria. 

Baca juga : Maruf Amin Ngaku Punya Darah Pasundan

Efektivitas Debat Capres
Indria mengatakan,  jika tujuan debat adalah untuk mendekatkan hubungan emosional dan profesional antara calon pemimpin dengan yang akan dipimpinnya, soal waktu harus dipandang penting. Jangan sampai hanya demi memenuhi prosedur, acara itu harus disusun sedemikian rupa, mengabaikan aspek fungsi dan efektivitasnya. Apalagi, bila dikaitkan dengan sistem pemilu serempak sekarang, di mana nasib caleg seolah ditentukan oleh kemenangan capres yang diusungnya. Hanya berharap dari efek ekor jas (coattail effect). Caleg kelihatannya kurang dibebaskan untuk berkampanye. Padahal, merekapun perlu mendulang suara sebanyak-banyaknya di dapil masing-masing. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.