Dark/Light Mode

Saat Pilkada Serentak

Mantap, 96 Persen Warga Patuhi Protokol Kesehatan

Rabu, 16 Desember 2020 06:30 WIB
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Jenderal (Purn)
Tito Karnavian (Foto : Patrarizki Syahputra)
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Jenderal (Purn) Tito Karnavian (Foto : Patrarizki Syahputra)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Jenderal (Purn) Tito Karnavian menyebut, tingkat kepatuhan masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan (prokes) saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 relatif tinggi. Mencapai 96 persen.

“Kita lihat dari sisi penularan Covid-19, data dari Kasatgas Covid, patut kita pegang reliable. Data dukungan juga jelas di semua daerah, kepatuhan pada prokes saat pemungutan suara berkisar 89-96 persen. Relatif cukup dapat dipatuhi dengan baik,” kata Tito, dikutip dari keterangan tertulisnya, kemarin.

Menurut mantan Kapolri ini, tingginya tingkat kepatuhan prokes di Pilkada 2020 telah menjawab kekhawatiran masyarakat akan adanya penambahan kasus harian Covid-19. Dia yakin, tidak  akan terjadi klaster baru setelah pelaksanaan Pilkada Serentak 2020.

“Ada Pilkada atau tidak, bukan faktor utama penularan Corona. Faktornya ada pada tingkat kepatuhan masyarakat dalam protokol kesehatan,” ujarnya.

Baca juga : Mendagri: Pilkada Penuh Terobosan, Protokol Kesehatan Juga Dipatuhi Pemilih

Dibanding daerah yang tidak menyelenggarakan Pilkada, lanjut Tito, ternyata tidak ada perbedaan atau terjadi peningkatan penyebaran Covid-19. “Kita lihat data daerah yang menggelar  Pilkada dan non Pilkada, tidak jauh berbeda. Artinya tidak terjadi lonjakan (kasus) di daerah Pilkada. Justru banyak daerah menggelar yang data merahnya menurun,” klaim Tito.

Selain itu, mantan mantan Kapolri itu juga menilai, pelaksanaan Pilkada 2020 relatif aman. Bahkan, sampai saat ini tidak ada gangguan konvensional signifikan terjadi saat pelaksanaan Pilkada.

Penilaian serupa juga disampaikan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Meski masih ada pelanggaran, tetapi pelanggaran itu tidak bersifat masif.

“Kekhawatiran berlebihan akan situasi yang  tidak kita inginkan, minimal sudah terjawab di area pelaksanaan Pilkada ini. Tidak terlalu banyak masalah signifikan,” kata Komisioner Bawaslu, Mochammad Afifuddin.

Baca juga : Pengen Berjaya Lagi Di 2024, Kader Demokrat Siap Tempur

Sedangkan Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menyebut, partisipasi pemilih di Pilkada Serentak 2020 hanya mencapai 50 persen saja. Namun  hal itu dia nilai wajar, mengingat Pilkada dilakukan di tengah pandemi Covid-19.

“Ada tren penurunan, hanya 50 persen partisipasi pemilih di Pilkada tahun ini,” katanya kepada Rakyat Merdeka.

Saat ini, masyarakat terlihat letih menghadapi event politik karena sebelumnya sudah mengikuti Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. “Mungkin juga masyarakat  sudah letih, dan mengalami kejenuhan politik akhir-akhir ini,” ujar Pangi.

Selain itu, Pangi menyebutkan, masyarakat barangkali sudah muak karena saat ini politik uang masih terus terjadi, dan tidak ada tindakan tegas. Masyarakat ingin mengubah nasib  mereka dengan suara atau pilihan. Tapi, mereka akhirnya menyerah dan memutuskan diam. “Makanya partisipasi juga menurun,” tegasnya.

Baca juga : PKS Siaga Sampai Akhir

Sementara itu, Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) Prof Dr Budi Suryadi menyebutkan, penurunan partisipasi pemilih pada Pilkada 202  lebih dikarenakan sistem atau cara pemilihan yang kurang efektif.

Semestinya, ujar Budi, guna menghindari atau mengurangi kerumunan pemilih terkait upaya pencegahan atau penularan Corona, diperbanyak Tempat Pemungutan Suara (TPS). Bukan  sebaliknya, yang terkesan terjadi regrouping (penggabungan).

"Akibat regrouping, satu TPS ada lebih 400 pemilih. Bahkan  hampir mencapai 500 orang. Sementara Pilkada atau Pemilu sebelumnya, per TPS cuma sekitar 300 pemilih,” tutur Tim Pakar  Penanganan Covid-19 Kalsel itu.  [EDY]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.