Dark/Light Mode

Hadapi Covid-19, Anis Matta: Jadikan Agama Sumber Optimisme, Bukan Fatalisme

Jumat, 2 Juli 2021 15:27 WIB
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta saat diskusi Gelora Talk5 dengan tema Covid-19 Mengganas: Sanggupkah Sistem Kesehatan Mengatasinya? di Jakarta, Kamis (1/7). (Foto: Ist)
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta saat diskusi Gelora Talk5 dengan tema Covid-19 Mengganas: Sanggupkah Sistem Kesehatan Mengatasinya? di Jakarta, Kamis (1/7). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, persoalan paling besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia pada masa pandemi ini adalah ketidapastian informasi tentang Covid-19 yang simpang siur, ketimbang penyakit itu sendiri.

"Kondisi ini membuat para pasien menghadapi psikologis yang sangat akut,  para dokter juga menghadapi persoalan tingkat keyakinan mereka dalam memberikan rekomendasi bagi pasiennya," kata Anis Matta saat memberikan pengantar diskusi Gelora Talk5 dengan tema Covid-19 Mengganas: Sanggupkah Sistem Kesehatan Mengatasinya? di Jakarta, Kamis (1/7).

Menurut Anis Matta, hal itu terjadi akibat banyaknya informasi saintifik bercampur informasi hoax yang begitu cepat menyebar di masyarakat. Di samping itu pengetahuan dokter saat ini tentang masalah Covid-19 juga masih terbatas.

"Walhasil ada serangan besar terhadap optimisme kita, dan persoalan ini saya anggap penting dalam pendekatan keagamaan. Karena agama adalah sumber optimisme bukan sumber fatalisme," katanya.

Berita Terkait : Krakatau Steel Berikan Pasokan Oksigen Gratis

Agama, tegas Anis Matta, menjadi langkah awal untuk memahami persoalan Covid-19 dan dapat menjauhkan diri dari sikap fatalis.

"Agama harus jadi sumber optimisme dan otorisasi sains jadi referensi utama menghindarkan disinformasi publik,"  jelasnya.

Anis lantas mengutip dalil yang menyebutkan, bahwa Allah tidak pernah menurunkan suatu penyakit, melainkan juga bersamanya menurunkan obatnya. Agama menyuruh manusia bergantung kepada sang Pencipta, termasuk mencari kesembuhan dan obat dari penyakit Covid-19 ini.

Kemudian mengikuti seluruh rekomendasi dokter dan para saintis yang berhubungan dengan penyakit itu.

Berita Terkait : Masyarakat Tak Taat Prokes, Bukan GeNose Penyebabnya

"Jadi makna tawakal tak boleh jadi sumber fatalisme. Agama justru menjadi sumber optimisme. Disinilah kita melangkah untuk menghadapi persoalan ini. Persoalan paling besar yang kita hadapi pada dasarnya adalah, bukan sekadar pada penyakit baru yang namanya Covid-19 ini, tapi karena tingkat ketidakpastian akibat begitu banyaknya informasi yang simpang siur," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Cholil Nafis. Ia mengatakan, banyak informasi tentang Covid-19 yang beredar, telah membuat kepanikan di masyarakat. Kepanikan itu juga sempat melanda dirinya saat terjangkit Covid-19 beberapa waktu lalu.

"Ternyata berita-berita itu membuat kita panik, asam lambung saya malah naik dan menjadi tidak nyaman. Orang Ketika divonis kena Covid-19, kita tidak bisa tidur dan masuk rumah sakit, ditinggal keluarganya. Kemudian dikasih berita tentang kematian, dan bagaimana cara dikuburkan, ini yang membuat orang panik," katanya.

Cholil berharap, tempat-tempat ibadah tidak ditutup dalam masa pemberlakuan  pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro Darurat. Masyarakat bisa beribadah mendekat diri dengan sang Pencipta, termasuk dekat  dengan para ulama agar mendapatkan siraman ruhani.

Berita Terkait : Dipicu Covid-19, Indosat Garap Sektor Kesehatan

"Saya hampir tiap hari masalah diminta ceramah dan mendoakan yang kena Covid-19. Karena itu, rumah ibadah jangan ditutup, tapi bisa jadi sentra komunikasi penyadaran kepada masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan," kata dia.

Gelora Talk5 dengan tema Covid-19 Mengganas: Siapkah Sistem Kesehatan Nasional Menghadapinya?"l ini juga menghadirikan narasumber lain, yakni dari Satgas Nasional Penanganan Covid-19 Brigjen (Purn) TNI Dr. Alexander K. Ginting, Dosen Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Hamdi Muluk, Menteri Kesehatan 2004-2009 DR. dr. Siti Fadhilah Supari, Ketua Bidang Kesehatan DPN Partai Gelora Indonesia dr. Zicky Yombana, dan Drs. Oman Fathurahman dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia. [EDY]