Dewan Pers

Dark/Light Mode

Diberitakan Media Asing Bersedia Masuk Pemerintahan Jokowi

Nggak Ada Yang Ajak Sandi Masuk Kabinet

Kamis, 2 Mei 2019 05:10 WIB
Cawapres 02 Sandiaga Uno (Foto: IG/Dok. Pribadi)
Cawapres 02 Sandiaga Uno (Foto: IG/Dok. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Media asing menulis berita Sandiaga Uno isyaratkan bersedia masuk kabinet pemerintahan Jokowi. Berita itu sudah menyebar di media sosial. Sandi membantah. Kubu Jokowi juga menegaskan, memang nggak ada yang ngajak Sandi ke kabinet.

Jokowi yang sementara ini unggul versi hitung cepat lembaga survei kredibel, sudah melakukan pembahasan kabinet bersama para elite parpol pendukung dan timses. Jubir TKNJokowi-Maruf, Ace Hasan Syadzily mengakui pembahasan sudah digelar sejak pekan lalu.

Hanya saja, pembahasan masih bersifat umum. Misalkan sektor mana yang harus diperkuat untuk mewujudkan visi Nawacita Jilid 2, serta bagaimana cara mengeratkan koalisi. Pembahasan kabinet belum mengerucut pada nama.

Di tengah pembicaraan itu, muncul berbagai isu. Seperti merapatnya partai pendukung Prabowo-Sandi ke Jokowi, dan bergabungnya Sandi ke kabinet Jokowi. Partai yang santer disebut akan menyeberang adalah PAN dan Demokrat. Sementara, wacana Sandi merapat ke Jokowi, paling tidak disebabkan dua hal.

Pertama, beredarnya pesan yang berisi nama-nama tokoh yang disebut masuk Bursa Menteri Kabinet Jokowi-Ma'ruf kalau sudah dinyatakan menang. Pesan tersebut beredar di Whatsapp sejak Senin (29/4) lalu.

Berita Terkait : Seminggu Lagi Puasa, Pemerintah Harus Pastikan Kecukupan Bahan Pangan Sampai Lebaran

Dalam daftar, ada sekitar 40 nama yang tertulis dalam jajaran menteri dan kepala lembaga. Yang menarik, ada nama Sandi. Dalam daftar itu, Sandi tertulis akan menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Kedua, wacana itu muncul karena dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, Sandi mengatakan membuka peluang untuk bergabung dengan pemerintahan Jokowi. Mengutip Bloomberg, Sandi mengatakan, kepentingan negara adalah yang pertama dan terpenting. Hal itu dilontarkannya, saat iamenjawab pertanyaan tentang kemungkinan dia bergabung dalam kabinet Jokowi nantinya.

"Saya ingin berkontribusi bagi negara. Semuanya adalah tentang bagaimana kita mampu memberikan pengaruh terbaik (untuk negara). Tidak harus berada dalam pemerintahan. Bisa juga berada di luar pemerintahan. Tapi sekali lagi, saya tidak mau berspekulasi. Hal ini akan dibicarakan setelah 22 Mei," ungkap Sandi.

Dua hal itu menyebabkan polemik yang bikin media sosial ramai. Senin (29/4), Sandi mengatakan, pemberitaan media asing yang menyebutnya membuka kemungkinan untuk bergabung dengan pemerintahan Jokowi adalah spekulasi belaka.

"Saya sampaikan berulang kali dalam wawancara itu, bahwa saya nggak mau berspekulasi. Tapi, yang saya garis bawahi adalah kepentingan bangsa dan negara," kata Sandi di Kedai Pangkas Rambut Ko Tang, Pasar Glodok, Jakarta.

Berita Terkait : Eni Ngaku Kasih Uang Pada Aspri Menpora

Kepada wartawan, Sandi menegaskan saat ini fokusnya adalah menegakkan keadilan. Bukan tentang menang atau kalah, bukan juga tentang cari kekuasaan atau jabatan.

"Kalau mau jabatan sih, saya ya nggak akan mendengarkan aspirasi masyarakat seperti ini. Tapi, kan kita yang penting NKRI. NKRI-nya yang mesti kita jaga. Jadi, itu yang saya sampaikan," tuturnya.

Mantan Wakil Gubernut DKI Jakarta ini mengaku tak pernah berpikir tentang mencari jabatan, atau memikirkan jabatan. "Fokus kita sekarang tanggal 22 Mei. Fokus kita untuk mengawal pemilu ini jujur, adil, bermartabat dan sehat," ucapnya.

Selasa (30/4), Sandi ditanya soal namanya yang masuk jajaran menteri kabinet. Seperti sehari sebelumnya, Sandi enggan berkomentar banyak. "Saya nggak mau berspekulasi," katanya di Kantor Kelurahan Kayu Manis, Jakarta Timur.

Wakil Ketua TKN Jokowi-Maruf, Abdul Kadir Karding mengatakan, dalam pembicaraan soal reposisi koalisi, tak ada pembicaraan soal Sandi. Yang ada adalah kemungkinan partai di kubu 02 yang berpeluang merapat. Menurutnya, ada dua partai yang punya chemistry kebersamaan. Dua partai itu dengan ciri khas warna biru, yakni Demokrat dan PAN.

Berita Terkait : Tiang Listrik di Papua Barat Cuma Hiasan, Nggak Ada Setrumnya

"Saya melihat yang punya peluang besar ke depan PAN dan Demokrat," kata Karding di kawasan Epicentrum, Jakarta, Rabu (1/4).

Soal PAN, mantan Sekjen PKB ini mengungkapkan merapatnya PAN tampak saat Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan bertemu Jokowi. Dalam pertemuan itu, Zulkifli telah membisiki Jokowi untuk meminta jabatan.

"Yang saya dapat infonya satu, dan saya berani mempertanggungjawabkan bahwa memang Pak Zul membisik Pak Jokowi, PAN meminta bagian untuk pimpinan MPR. Saya berani bertanggungjawab soal itu," papar Karding. [BCG]