Dark/Light Mode

Masih Teratas Di Survei Parpol

Banteng Dipepet Garuda

Jumat, 22 Oktober 2021 07:50 WIB
Ilustrasi bendera partai politik. (Foto: Antara)
Ilustrasi bendera partai politik. (Foto: Antara)

 Sebelumnya 
Apa target PDIP di Pemilu 2024? Hendrawan mengatakan, partainya ingin menciptakan hattrick alias 3 kali menang dalam Pileg dan Pilpres secara berturut-turut. “Saya pikir, ini harapan yang wajar dan sangat masuk akal,” cetusnya.

Lalu bagaimana tanggapan Gerindra? Ketua DPP Gerindra, Desmond J Mahesa mengatakan, hasil survei tersebut tentu akan jadi bahan kajian partainya. Partainya kini tentu waspada melihat posisi Gerindra yang memang masih di posisi dua, namun elektabilitasnya terpaut jauh dengan PDIP.

“Dengan kondisi hari ini, kami tak kaget dengan elektabilitas PDIP yang 19 persen. Karena mereka partai berkuasa,” kata Desmond, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Baca juga : Kasus Wafat Terendah Di Tahun Ini, 19 Provinsi Laporkan Nol Kematian Harian

Kata dia, partainya tentu akan melakukan pembenahan-pembenahan dan melakukan kajian agar Gerindra bisa juara di Pemilu 2024. Berkaca pada Pemilu 2019, Desmond melihat Gerindra mendapat peningkatan suara ketika mencalonkan Prabowo Subianto sebagai capres.

Sampai saat ini memang sudah banyak kader daerah dan pusat yang meminta agar Prabowo kembali maju sebagai capres pada Pilpres 2024. Namun hingga kini eks Danjen Kopassus itu belum pernah menyatakan kesediaannya untuk mencalonkan diri kembali pada pilpres.

Apakah posisi ini akan bertahan sampai 2024? Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengatakan, posisi ini sangat mungkin berubah. Survei ini hanya menggambarkan kondisi di lapangan saat ini.

Baca juga : Lewandowski Ngerasa Pantas Didaulat Jadi Pemain Terbaik Dunia

Kata dia, ada dua faktor yang mempengaruhi perolehan suara parpol pada Pemilu nanti. Pertama adalah efektivitas mesin partai. Saat ini mesin partai belum bergerak. Yang bergerak hanya kandidat capres dan cawapres seperti Puan Maharani, Ganjar Pranowo, Airlangga Hartarto, dan Muhaimin Iskandar.

“Kalau mesin politik sudah digerakkan, pergeseran akan terjadi. Pergerakan akan dinamis. Yang paling efektif yang mendapat suara banyak,” kata Ujang, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Kedua, kata dia, capres dan cawapres yang diusung. Karena itu, ada teori efek ekor jas. Suara partai akan mendapat limpahan suara dari capres yang diusung.

Baca juga : Menaker: Kolaborasi Bersama, Lindungi Pahlawan Devisa

Hal ini terlihat dari hasil Pemilu 2019. Saat itu, PDIP yang mengusung Jokowi mendapat limpahan suara banyak dan menjadi juara pemilu. Begitu juga dengan Gerindra yang mengusung Prabowo. Karena itu, kata dia, para ketua umum parpol ingin jadi capres/cawapres karena mereka yakin bisa mengerek elektabilitas partainya. [BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.